AMAZING LOVE

Amazing Love
Written by: Billy James Foote

I’m forgiven because You were forsaken,
I’m accepted, You were condemned.
I am alive and well, Your spirit is within me,
Because You died and rose again.

Amazing love,
How can it be
That You, my King, would die for me?
Amazing love,
I know it’s true.
It’s my joy to honor You,
In all I do, I honor You.

YUSUF ABAD KE-21

MENGOBARKAN SEMANGAT MENGEJAR VISI TUHAN

Sebenarnya ada banyak orang yang mengasihi Tuhan di dalam gereja kemakmuran, tapi dengan pengertian yang salah, mereka justru mendukakan Tuhan. Kasih contoh aja deh. Salah satu yang sering dikhotbahkan dalam gereja kemakmuran adalah, “Generasi Yusuf”. Ada banyak versinya, tapi intinya lagi-lagi prosperity atau kemakmuran. Memang, kalo pendeta sudah cinta uang, apa aja bisa dikhotbahkan supaya jemaat lebih banyak lagi memberi dan memberi. Mengejar berkat Tuhan adalah justru penyakit yang berbahaya di gereja. Udah gitu nih penyakit bisa nular lagi. Someday mereka akan menuai apa yang mereka tabur dalam kedagingannya. Jadi marilah kita bahas secara ringkas khotbah tentang Yusuf di gereja saat ini.

Khotbah mengenai Yusuf tentunya bagus, bagiku selain masalah visi, yang harus lebih ditekankan adalah masalah integritas. Namun beberapa pemimpin gereja kemakmuran lebih menekankan “JUBAH YUSUF” (pemerintahan di dunia yang dipimpin seorang Kristen dengan segala kemakmuran). Seorang pendeta yang kuhormati beberapa waktu yang lalu juga berkata lantang, “Kitalah Yusuf-Yusuf masa kini!” Kalo sedang bicara tentang integritas pasti aku akan teriak ‘Amin’. Namun kalo berbau kemakmuran dan berisikan iming-iming, aku mulai pasang filter dalam rohku, ga bisa ditelan mentah-mentah, apalagi di’amin’kan!

JUBAH YUSUF? Hmm, aku cuma tersenyum, mengingat ga pernah ada sejarahnya sejak jaman Yusuf yang asli, lalu muncul lagi “Yusuf-Yusuf ” berikutnya dalam arti seorang anak Tuhan yang menjadi penguasa. Buktikan aja sendiri. Bacalah baik-baik kitab Kejadian dan juga pelajari sejarah, bandingkan Mesir itu negara kayak apa sih dulunya, kalo sudah dapat gambaran, baru kita bicara definisi Yusuf masa kini. Yusuf yang menjadi pemimpin negara adikuasa di dunia ini ya cuman Yusuf bin Yakub itulah. Ga ada yang lain dan bakalan ga pernah ada lagi. Sorry guys, mari bangun dari tidur kita dan berhenti berangan-angan. Yusuf cuma bagian kecil dari keseluruhan rancangan Allah atas Israel umat-Nya. Toh, setelah Israel mengalami masa yang jaya di masa pemerintahan Yusuf, mereka kembali mengalami penderitaan panjang, diperbudak kembali oleh bangsa Mesir-suatu bangsa yang pernah dipimpin oleh seorang Ibrani.

Di gereja kemakmuran, banyak orang berjuang menjadi kaya, supaya ‘kelihatan’ bahwa mereka orang-orang yang ‘disertai Tuhan’. Para pendeta yang notabene makan gaji dari jemaat pun berupaya berbisnis, masak kalah ama jemaat sih. Mereka punya konsep bahwa ga akan mungkin kaya raya kalo cuma hidup dari persembahan. Ntar gue foya-foya, dibilang pendeta ga tau diri. Lagian kata mereka, hari gene hidup dari persembahan? Kan Malu. Jika motifnya adalah cinta uang, gengsi, pamer, populer dan kesombongan terselubung, maka semuanya adalah hal yang sia-sia, sekalipun dirohanikan dan pake ayat-ayat suci. Contoh kasus, ada yang tadinya full timer, sekarang jadi part timer, karena sudah ada bisnis yang mau diurus, pendeta mendorong kok bahkan pendeta ikut juga terjun, katanya itu cara kita jadi ‘berkat’, supaya dunia ‘memandang’ kita. Sebagai anak Tuhan kita harus ‘mengangkat’ nama Yesus. Yang tadinya artis rohani, sekarang berupaya sekuat tenaga untuk jadi artis sekuler, intinya, ya itu tadi, biar dapet banyak uang dan bisa jadi ‘berkat’. Kata mereka, album rohani sangat terbatas penjualannya di sini, beda kalo di Amrik. Penyanyi rohani Amrik kaya raya, tidak seperti penyanyi rohani di Indonesia, dibilang kaya ga, miskin juga ga. Nah, pengen sih jadi ‘berkat’, makanya pindah ke sekuler, kalo dipikir-pikir, Mbah Surip (Alm.) aja bisa dapet miliaran rupiah dari lagu yang sederhana, kita juga bisa toh, apalagi kita anak Tuhan. Kok, kenapa maksa banget sih pengen jadi kaya, kok maksa sekali sih pengen menggenapi janji Tuhan dengan kekuatan sendiri? Sabar kek dikit?! Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah, kerja keras ga menambahinya. Ingat, apa yang ditabur (dalam kedagingan), itulah yang akan dituai.

Walaupun demikian, memang akan ada anak Tuhan yang kaya luar biasa yang dipakai untuk memberkati bangsa-bangsa, dengan kekayaan yang luar biasa banyaknya sperti yang digambarkan dalam nubuatan kitab Yesaya. Nah, yang ini asli kaya raya, beneran, bukan sekedar ‘nampak kaya’ atau berupaya memaksa diri menjadi kaya. Tapi itupun bukan gambaran seorang ‘Yusuf’. Mungkin kalo dikatakan bahwa Tuhan akan membangkitkan ‘Ayub-ayub masa kini’, itu lebih tepat. Namun, jika ingin berbicara tentang menjadi kaya seperti Ayub, ingatlah juga bahwa dia diuji habis-habisan dalam penderitaan yang tragis, sama halnya dengan Yusuf. Jadi tolong pikirkan dahulu baik-baik, kalo mau jadi seorang ‘Ayub’ atau ‘Yusuf’, jangan cuma liat kemakmurannya saja.

Intinya jelas, bahwa sungguh ga nyambung banget deh, mengkaitkan YUSUF apalagi AYUB dalam ‘membujuk’ orang untuk memberikan persembahan terbaik di gereja. Keduanya jelas lebih banyak bicara mengenai bertahan dan sabar dalam penderitaan. Apalagi cerita Ayub-seorang yang takut akan Tuhan tapi mengalami apa yang nampak sebagai ‘kutukan’ dan ini disalahpahami bahkan oleh sahabatnya sendiri-sesama rekan hamba Tuhan. Yesus sendiripun mengalami penderitaan yang hebat demikian pula murid-murid-Nya. Yesus sama sekali ga pernah berkata kepada ke-12 murid-Nya, “Kalian adalah Yusuf-Yusuf yang dibangkitkan Tuhan pada masa kini!” Semua ini jauh dari benak murid-murid-Nya, tatkala dengan hati hancur melihat pemimpin yang mereka kasihi disiksa secara sadis, ditelanjangi (naked, bugil) dan disangkutkan pada sebuah tiang kayu di bukit Golgota. “Inikah akhirnya?” Iman merekapun berguguran! Pauluspun harus mengurungkan niatnya untuk tampil menjadi seorang ‘Yusuf di jaman Palestina’ untuk memberkati dunia, karena nubuatan yang mengawali panggilannya berbicara mengenai penderitaan berat yang harus ditanggungnya-jadi sama sekali ga ada unsur kemakmurannya. Dan Pauluspun mati secara tragis.

Bagaimana kita menggambarkan jaman ini? Inilah jaman di mana orang Kristen terbuai dengan pengajaran yang ingin mereka dengarkan, bukan apa yang perlu mereka dengar. Padahal Tuhan sedang melatih para pahwalan iman-yaitu mereka yang siap menderita dan berperang, bukan tipikal bayi-bayi rohani yang selalu merengek minta ini-itu dan ngambek apabila ga mendapat apa yang diinginkannya. Kalo begini terus bagaimana generasi berikutnya akan survive dalam iman mereka? Dear guys, kekristenan yang sejati tidak akan lepas dari penderitaan. Trust me. Namun demikian, bukanlah penderitaan itu pula yang kita banggakan dan bukan pula tanding-tandingan beban berat dan penderitaan di gereja. Hal yang mau ditekankan adalah karena kasih karunia Tuhan, segala perkara dapat kita tanggung dan bersama-Nya kita menang!

Waktu Gus Dur wafat, aku baru tahu melalui banyak liputan di TV, bahwa selama dia mengalami kelemahan fisik dan gangguan penglihatan, dia sama sekali ga pernah mengeluh atau membesar-besar sakitnya itu. Orang-orang terdekatnya sendiri yang memberikan kesaksian tersebut. Tiba-tiba saat menyaksikan liputan tersebut, aku mendapat rhema dalam hatiku, “Paulus adalah orang yang seperti itu selama memberitakan Injil di bumi.” Paulus juga adalah orang yang punya banyak kelemahan, namun justru dalam kelemahannya itulah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Paulus adalah rasul yang paling banyak bicara mengenai kesetiaan hidup dalam penderitaan, coba aja Paulus khotbah mengenai JUBAH YUSUF mau jadi apa generasi berikutnya.

Jadi melalui blog ini, aku mau tegaskan bahwa semua hal yang berhubungan dengan Yusuf yang patut ditekankan di gereja bukanlah tentang kemakmuran, melainkan tiga hal ini: 1. Memegang janji Tuhan (VISI), 2. Integritas, 3. Kemenangan atas ujian penderitaan. Menurutku, seorang Kristen yang punya panggilan tentunya akan mengalami ujian seperti yang dialami oleh Yusuf. Dia berdiri sebagai batu karang & teladan integritas yang sungguh menginspirasi kita. Yusuf mendapat janji Tuhan bahwa someday ia akan menjadi orang besar, namun apa yang dialaminya justru makin lama makin memburuk saja kelihatannya. Yusuf bukanlah orang yang meniti karir yang bergerak selangkah demi selangkah menuju Istana (promosi), seperti yang ‘dialami’ mayoritas orang Kristen di dalam dunia pekerjaan atau bisnis. Supaya nyata oleh tangan Allah, Yusuf diangkat dari lubang penjara yang hina lalu diberikan suatu tahta yang mulia. Yusuf berhasil, semua ini semata-mata karena ia menuai apa yang telah ditaburnya.

Akan tiba saatnya kita menuai. Karena itu, jangan berhenti menabur dan selalu pegang janji Tuhan. Mari kita menjadi Yusuf abad 21, dalam arti orang yang berintegritas, mau menderita dan penuh semangat mengejar visi atau janji dari Tuhan. Mungkin apa yang engkau alami justru adalah kebalikannya yaitu hal yang pahit dan kehidupan yang makin lama makin memburuk saja kelihatannya. Namun, ingatlah, jika kamu adalah orang yang setia menabur, maka seturut dengan Hukum Tabur Tuai, maka engkau akan menuai, asal engkau tidak menjadi lelah dan patah semangat. Kobarkan semangatmu dalam penderitaan, bertahanlah dan kejar visi Tuhan! Hmmm, siapa tahu besok adalah hari promosi dari Tuhan! Amin!!!!

Dalam sekejap mata keselamatan yang dari pada-Ku akan dekat, kelepasan yang Kuberikan akan tiba, dan dengan tangan kekuasaan-Ku Aku akan memerintah bangsa-bangsa; kepada-Kulah pulau-pulau menanti-nanti, perbuatan tangan-Ku mereka harapkan.” (Yesaya 51:5)

.

In God’s promises,

John Jeshurun

HUKUM TABUR TUAI

MENGALAMI HIDUP YANG BERBUAH DAN BERHASIL

“Menabur adalah melakukan segala sesuatu yang memiliki nilai kekal, berdasarkan firman Tuhan atau dorongan Roh Kudus yang berdampak terhadap pertumbuhan Kerajaan Allah di muka bumi.” -John Jeshurun

Waktu gempa di Sumbar beberapa waktu lalu, aku turut memberikan sumbangan sebesar 1.5 juta. Menurutku, nyumbang uang lebih praktis ketimbang harus membelikan berkardus-kardus mie instan. Tapi aku salut juga bagi gereja-gereja yang turut terjun langsung membantu korban di sana. Singkat cerita, seminggu kemudian aku mendapat transferan senilai Rp. 9.5 juta. Kalo dapet uang, biasanya hal yang pertama dilakukan beberapa orang (khususnya pendeta) adalah langsung mengucap syukur, tapi waktu itu aku harus mencek dulu duit itu dari mana, sapa tahu salah transfer. Jangan geer dulu, jika itu bukan hak kita janganlah kita memakannya-ntar bisa kena kutuk. Kembalikanlah apa yang bukan milik kita, jika sesuatu itu memang dari Tuhan, maka selalu cara-Nya supaya kita mendapatkannya kembali. Memang awalnya, aku sudah mencurigai bahwa Tuhan nih yang punya kerjaan, tapi harus dibuktikan terlebih dahulu. Ternyata setelah mengecek dengan seksama, maka tahulah aku bahwa memang itu dari Tuhan, yah apa boleh buat, harus diterima seiklas-iklasnya.

Kalo aku jadi orang bebal pasti akan nanya, kok nanggung ngasihnya 9.5 juta, kok ga dipaskan aja 10 juta aja? Hari gene, udah diberkati masih minta lebih, masih mau nuntut lagi? Kalo itu terjadi maka aku adalah orang yang ga tau diri namanya. Biasanya Tuhan memberi berkat-Nya sekaligus menilik hati kita yang terdalam. Sering kali yang buat Tuhan murka itu adalah, setelah Tuhan menjatuhkan berkat-Nya, eh bukan pengucapan syukur yang datang, melainkan keserakahan, kurang banyaklah, harus ginilah, harus gitulah. Hmm, ga tau diuntung!

Posting kali ini bukan mau ngomongin pelajaran mengucap syukur. Kali ini aku mau bagikan suatu kebenaran tentang hukum tabur tuai. Sorry dear friends, hukum tabur tuai bukan masalah persembahan, it’s more than that. Lha, kalo bukan ngomong persembahan, ngasih contoh gempa tadi buat apa? Buat pamer? Hmm, sejujurnya, ini cuman cara menarik perhatian saja, karena contoh di atas mirip kesaksian-kesaksian gereja kemakmuran, yang menurutku adalah penyesatan terbesar saat ini. Dan aku mau menyatakan bahwa hukum tabur tuai, sama sekali bukan ajaran untuk memberi dan menerima berkat berkali ganda, it’s more than that-mari kita lanjutkan.

Hukum tabur tuai adalah salah satu hukum yang terpenting dalam gereja Tuhan. Hukum ini berbunyi, “Apa yang ditabur orang, itu jugalah yang dituainya.” Pelajaran mengenai hukum-hukum (laws, ketentuan, kaidah) bisa kita dapatkan dari Fisika. Mungkin hukum yang paling terkenal dalam Fisika adalah Hukum Gravitasi, yang berkaitan dengan gaya tarik bumi. Jika sebuah benda dilempar ke atas, maka benda itu akan selalu kembali turun ke bumi. Itulah sebuah hukum, ga akan berubah, sudah menjadi ketentuan yang tetap. Demikian pula halnya, hukum yang paling terkenal dalam Kerajaan Surga itu namanya Hukum Tabur Tuai, yang intinya bahwa setiap orang akan menuai apa yang ditaburkannya selama ini.

Ada suatu kisah, di mana sebuah pesawat terbang mengalami goncangan hebat sekali dan akan segera jatuh ke bumi alias crash. Para penumpang menjadi sangat panik, saat mengetahui bahwa pesawat bakal crash, mereka juga tahu bahkan pilot aja sudah ga bisa berbuat apa-apa lagi. Kebetulan salah seorang penumpang mengetahui bahwa dalam pesawat itu ada seorang pendeta (melihat dari pakaiannya, mungkin abis mendarat mau langsung pelayanan). Ia menjerit histeris, “Pak Pendeta, ayo lakukan sesuatu, kita semua bakal tewas”. Pendetapun spontan bangkit berdiri, walau sedikit bingung, ia lalu berkata, “Baiklah, mari kita menjalankan persembahan”.

Mayoritas umat Tuhan, kalo sudah bicara Hukum Tabur Tuai ini, pasti berpikir mau ngomongin persembahan. Mau bicara mengenai uang. Hmm, kasihan juga umat Tuhan, ga salah mereka sih, semua ini salah pemimpinnya. Tapi waktu kan berlalu, pemimpin lama akan segera berganti (wafat), akan tiba saatnya untuk membunyikan genderang peringatan, tapi semua itu ada waktunya. Kalo protes sekarang langsung ke pemimpin-pemimpin gereja kemakmuran, ga akan banyak manfaatnya. Apalagi mau menggalang orang untuk demo, sama sekali ga bijaksana. Terlepas dari bicara berlebihan tentang kemakmuran, banyak kok kualitas positif yang dimiliki oleh mereka, yang ini juga harus diakui. Mereka adalah bapa-bapa kita juga di dalam Tuhan. Tapi generasi yang baru harus wake up, kekristenan bukan bicara kemakmuran semata. Come on people, Iblis bikin kita kehilangan prioritas dengan mengejar kemakmuran. Jadi, untuk saat ini, mending mempersiapkan diri, demi kelangsungan perjuangan generasi berikutnya.

Menabur tidak hanya berurusan dengan Dollar. Ada empat pengajaran Yesus dalam hal menabur yang disampaikan dalam bentuk perumpamaan dan semuanya sama sekali ga terkait dengan uang. Ga perlu tafsir teologis yang tinggi, toh Yesus juga menjelaskan kok secara sederhana apa artinya perumpamaan tersebut, bahkan anak kecil yang polospun bisa tahu bahwa Yesus tidak sedang bicara mengenai uang. Ah, memang repot kalo gereja sudah cinta uang, semua ayat di alkitab bisa dipake untuk persembahan. Memberi supaya diberkati. Yang paling konyol adalah memakai ayat: “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.” Ayat ini sama sekali ga ada hubungan dengan memberi, ini hanya bicara ketaatan dan kepercayaan penuh pada penyertaan Tuhan sekalipun pada masa krisis. Tentang hal ini sudah pernah aku jelaskan pada posting RESESI? MENABUR AJA! Jadi, ga akan akan kita bahas lagi.

Sebelum salah kaprah dalam masalah persembahan, aku di sini hanya menekankan masalah motif dalam hal memberi. Terkadang banyak orang di gereja memiliki motif yang salah dalam hal memberi. Memberi supaya mendapatkan kembali. Mereka ga sabaran pengen menikmati ‘hidup yang diberkati’. Ga sabaran pengen punya mobil mewah (yang kayak punya pak Pendeta kita itu lho). Ga sabaran pengen update status FB or Twiter semisal: “otw to Paris”atau “enjoying wonderful holiday in Honolulu”. Orang-orang berlomba-lomba menjadi kaya dan pengen menikmati hidup glamour. Kehidupan glamour inilah yang sering diterjemahkan sebagai ‘kelimpahan’. Abis pastor kita juga gitu sih. Sebenernya ga ada yang salah dengan kekayaan, ga salah kok enjoying your life. Yang salah adalah hidup dengan gengsi dan kesombongan serta memiliki motif cinta akan uang. Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Di dalam gereja, kamu akan tahu kok dalam percakapan 30 menit, apakah seseorang itu cinta Tuhan atau menjadi hamba uang-ga peduli berapa lamapun dia melayani. Penyakit paling parah itu adalah cinta uang. Udah cinta uang, diskriminatif lagi, persis kayak orang dunia. Dunia emang jelas mengagungkan kekayaan, apakah gereja ikut-ikutan juga? Gereja kemakmuran, itu penyakit menular paling parah saat ini melebihi apapun. Aku sudah membahasnya panjang lebar dalam post GEREJA KEMAKMURAN.

Tidak mungkin seseorang mengabdi kepada dua tuan, mereka pasti akan mencintai yang satu dan membenci yang lain. Kecintaan orang terhadap uang sudah menyatakan bahwa mereka sesungguhnya membenci Allah, walopun persembahan mereka mencapai 1 Milyar setahun kepada gereja. Yang mereka kejar itu sebetulnya adalah berkat, bukan Allah sendiri. Sadarkankah kita bahwa mengikut Tuhan akan membawa kita dalam aniaya? Sadarkah kita jika kita mengaku murid, maka akan mengalami nasib yang ga jauh beda dengan Guru kita?

Nah, balik ke Hukum Tabur Tuai. Hukum tabur tuai sangat penting dalam kerajaan Allah. Hukum ini menerangkan bagaimana prinsip hidup yang berbuah dan berhasil. Hukum ini berbunyi, “Apa yang ditabur orang, itu jugalah yang dituainya.” Ini sudah menjadi ketetapan sorgawi. Jika ada orang menanam benih jagung, pasti menuai jagung. Setiap orang akan menuai apa yang ditaburkannya. Semuanya berawal dari benih. Apakah yang dimaksud dengan benih? Mari kita pelajari bersama.

Seperti yang kita bahas sebelumnya, ada empat pengajaran Yesus dalam hal menabur, yaitu: 1. Perumpamaan tentang penabur, 2. Perumpamaan benih yang mengeluarkan tunas, 3. Perumpamaan biji sesawi (bukan yang tentang iman, tapi yang tentang menabur benihnya) dan  4. Perumpamaan lalang di antara gandum. Benih yang dimaksud dalam keempat perumpamaan itu adalah Firman dan anak-anak Kerajaan. Benih bukan uang! Benih bukan emas! Benih adalah firman Tuhan! Benih adalah perkataan Tuhan! Benih adalah dorongan Roh Kudus yang sangat kecil dalam hati orang percaya!

Jadi bisa disimpulkan, menabur adalah melakukan segala sesuatu yang memiliki nilai kekal, berdasarkan firman Tuhan atau dorongan Roh Kudus yang memiliki dampak terhadap pertumbuhan Kerajaan Allah di bumi. Kita bisa menabur lewat perbuatan, perkataan, sikap, perhatian dan doa. Kekristenan tanpa menabur adalah kekristenan yang mati. Tumbuh kembangkan benih-benih kebenaran Firman Tuhan dan aplikasikan dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, Firman (benih) secara perlahan namun pasti akan tumbuh semakin besar dan semakin kokoh, tidak hanya itu, tapi juga berbuah lebat. Sehingga pada akhirnya, doa: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu” terjawab.

Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. (Markus 4:26)

Pengajaran Yesus tentang hal tabur tuai menjelaskan 2 prinsip dalam pertumbuhan rohani, Pertama, bahwa kekristenan itu adalah mengikut Tuhan langkah demi langkah, ga ada yang instan. Ga ada orang yang barusan menabur langsung berharap benih itu tumbuh menjadi pohon yang berbuah lebat hanya dalam semalam seperti dalam cerita ‘Jack dan Kacang Ajaib’. Ada proses yang harus dilalui dalam pertumbuhan, yaitu dengan tiap hari menabur dan membajak kebenaran. Memahami dan mencintai Firman, mengaplikasikannya. Itu proses yang panjang. Kedua, semakin tumbuh subur suatu benih maka akan semakin kuat dan akan segera menghasilkan buah atau siap dituai. Itu sebabnya orang Kristen itu punya kehidupan yang makin lama makin kuat. Itulah alasan bahwa orang yang bertumbuh dan semakin kuat akan susah sekali ditarik masuk dalam dosa dan dunia. Cintanya kepada Tuhan sudah merekat dan tidak terpisahkan, mereka diubahkan from glory to glory dalam kemuliaan yang semakin besar.

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” (Mat 13:31)

Kerajaan Allah selalu dimulai dari yang kecil dulu. Itulah prinsip penting dari hukum tabur tuai. Tidak ada yang instan. Orang yang setia dalam perkara kecil, akan dipercayakan perkara-perkara yang besar. Suatu pertumbuhan butuh proses. Gereja juga demikian. Jangan takut hai kamu kawanan kecil, jadilah setia dan selalu menabur. Jangan pernah minder karena jemaat kecil. Memimpin gereja memang harus dari yang kecil dahulu, jika visi dari Allah bisa merasuk dalam jiwa setiap jemaat, maka pasti terjadi pergerakan. Allah akan menambahkan jiwa-jiwa baru. Mending mana, dari sedikit menjadi bukit, atau dari ‘penonton bubar karena konser ta lagi menarik’. Gereja yang penuh tren suatu saat akan pusing sendirinya dalam mencari cara agar kebaktian full terus. Lama-lama emang jemaat ga ubahnya kayak penonton yang harus terus dihibur di gereja, dengan khotbah yang lucu dan artis rohani tenar. Pertunjukkan praise and worship selalu meriah dan ta lupa dengan lagu-lagu paling up to date. Gereja tren hanya mengejar rating. Ciri-cirinya selalu menonjolkan ‘nama’ gereja dan ‘nama’ pastornya dan sangat bergantung pada talented people. Layaknya merk papan atas, advertising dan branding tentunya menjadi sangat penting. Apa yang ditabur itu jugalah yang bakal dituai. Memang jemaat awalnya ramai sekali, namun saat rating turun, ‘penonton’ akan pindah ke gereja lain. Baca alkitab dan renungkan, Yesus sama sekali ga peduli akan populeritas dan Dia tidak mencari massa yang banyak. Massa yang banyak adalah kaum yang tidak setia, ingat kasus 5 roti dan 2 ikan. Yesus setia dengan kawanan kecil-Nya. Dia mulai menabur little by little, day by day. Hukum itu berlaku dan Yesuspun tahu bahwa Dia akan segera menuai pada waktunya.

Pertumbuhan jemaat selalu harus dimulai dari yang sedikit. Kasih contoh yang gampang ya, biar ngerti. Pernah tahu ga ada pendeta yang lumayan sering kasih khotbah tentang perpuluhan. Atau saat mengundang pengkhotbah tamu, tidak lupa memberi titipan supaya disinggung tentang masalah perpuluhan. Alasan utamanya simple aja, karena persentase jemaat yang mengembalikan perpuluhan masih di bawah standar. Statistiknya belum ada sih, tapi aku berpendapat bahwa jika jemaat (anggota tetap) sudah 60% mengembalikan perpuluhan maka pendeta boleh merasa lega. Jadi, kita bisa tahu apa artinya ‘di bawah standar’. Jika masih di kisaran 25%, ya tentu saja dong pendeta pusing, itupun yang 25% adalah para pengerja, pelayan mimbar, pendeta pembantu dan kerabat dekat semua. Kenapa ini bisa terjadi? Ya, karena gereja ga bertumbuh dari jumlah yang kecil dulu. Nah biasanya kan sebuah gereja instan berdiri cendrung diawali dengan kebaktian atau Persekutuan Doa dulu, lalu saat makin ramai, dikelola oleh beberapa talented people yang mengandalkan karunia (orang yang pinter khotbah, bisa musik & nyanyi, punya karunia kesembuhan), buat KKR, kebaktian dengan menyewa gedung-gedung, buat iklan dan acara yang wah. Gereja akhirnya penuh dengan jiwa-jiwa yang setengah hati. Inilah akibatnya. Apa yang ditabur, itulah yang dituai. Permuridan selalu dimulai dari skala kecil, terjadi mulitplikasi dan makin lama makin berkembang. Yesus tidak memberi ikan, Yesus menjadikan murid-muridnya penjala, sama seperti Dia. Yesus menduplikasikan diri-Nya dalam jumlah yang kecil dahulu. Acara yang besar memang seringkali dinilai membawa massa yang banyak, tapi bukan pertumbuhan. Pertumbuhan butuh proses dan itu selalu dimulai dari yang kecil. Believe it or not, dalam gereja instan, pendeta yang pada awal pelayanannya lebih banyak memikirkan jiwa-jiwa untuk diubahkan, namun setelah jemaat besar malah lebih banyak memikirkan anggaran setiap harinya.

Dalam hal menabur, tugas kita pribadi adalah memastikan benih itu tumbuh di tanah yang subur dan gembur. Tuhan akan mencurahkan hujan pada musimnya. Bahkan Alkitab mencatat, “Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.” Jelas sekali yang memberi pertumbuhan itu adalah Tuhan. Selama Bumi masih ada, hukum tabur tuai akan tetap berlaku dan Allah tidak akan bertentangan dengan hukumnya sendiri.

Benih firman Tuhan itu ibarat pedang bermata dua. Ada dua sisi yang sama tajamnya. Kita tidak saja memberi dampak dalam pertumbuhan pribadi semata, tetapi juga terhadap pertumbuhan orang lain. Kerajaan Allah itu mengefek sesama, berbicara tentang pengaruh, karenanya orang percaya disebut sebagi terang atau garam. Itu juga sebabnya dalam hidup ini kita harus rajin menabur firman Tuhan dan menyaksikan kemurahan Tuhan kepada orang lain, supaya orang lain juga mengalami pertumbuhan. Rajinlah sharing firman Tuhan. Orang yang menabur maka suatu saat kelak ia akan menuai, seturut dengan apa yang ditaburkannya.

Orang fasik membuat laba yang sia-sia, tetapi siapa menabur kebenaran, mendapat pahala yang tetap. Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan, tetapi hati orang bebal tidak jujur. Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. (Ams 11:8, 15:7, 22:8)

Alkitab mencatat bahwa, “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai. Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu.” Jangan memandang semata-mata kepada situasi dan keadaan. Jangan berhenti menabur dan berbuat kebaikan karena kita dizhalimi dan dikhianati. Pandanglah kepada Tuhan. Bahkan dikatakan, “Orang yang menabur dengan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai.” Tuaian pasti datang, apabila kita tidak menjadi lelah dan patah semangat. Karena itu taburkan benih kasih kepada orang lain, taburkan benih-benih kemurahan, sebab orang yang murah hati akan beroleh kemurahan. Taburkan kehangatan dan penerimaan di tengah dunia yang diskriminatif ini. Taburkan semangat dan benih sukacita kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat. Orang yang menabur pasti akan menuai. Sampai seluruh kebenaran firman Tuhan itu mendarah daging maka itulah saat-Nya kita diubahkan seperti Yesus dan kitapun menjadi berkat besar bagi orang lain.

Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik. (Pengkhotbah 11:6)

Firman Tuhan,  baik yang ditabur oleh bibir, maupun oleh karena cermin kesaksian hidup sehari-hari tidak akan kembali sia-sia. Firman akan bekerja. Benih itu telah jatuh dalam hati dan akan tumbuh. Jangan berhenti, taburkan juga doa-doa. Setiap doa pasti didengar oleh Tuhan. Panggil nama Tuhan dan beserulah kepada-Nya dengan segenap hati. Menabur dalam doa, maka kita akan menuai berkat surgawi baik dalam kehidupan sekarang ini, maupun dalam kehidupan dalam kekekalan nanti.

Doa termasuk juga dalam hal menabur. Namun doa sama sekali bukan ritual atau ucapan dibibir semata. Doa adalah jeritan hati! Doa bukanlah doa, sebelum seseorang bebas lepas dan terbuka datang mencurahkan isi hatinya yang terdalam kepada Tuhan. Doa adalah ungkapan hati yang paling tulus. Saat di sorga nanti, maka segalanya akan disingkapkan, dan nanti baru ketahuan bahwa hal yang paling jarang kita lakukan adalah berseru dalam doa. Itu kunci menarik segala berkat di sorga untuk datang tercurah di bumi. Itu adalah kuasa yang membawa kemuliaan Tuhan turun meliputi bumi. Itu adalah daya untuk menghancurkan segala pekerjaan Iblis yang dibangaun berabad-abad lamanya. Jangan heran, tempat-tempat yang paling terhormat di surga nanti bukanlah dipersembahkan kepada para pengkhotbah, melainkan kepada para pendoa! Karena itu jangan pernah berhenti berseru kepada Tuhan, menaburlah dalam doa dan segala kebajikan!

Semua orang Kristen harus menabur. Orang Kristen lahir baru yang sudah diselamatkan (yang sudah memiliki kepastian masuk Sorga), tapi semasa hidupnya ga pernah menabur, maka nanti tidak akan mendapatkan hal yang baik di Sorga. Orang seperti ini pengen hidup kudus, hidup terisolasi, dan menginginkan agar Tuhan segera datang, atau maut datang menjemput. Ada kemungkinan, karena kemurahan Tuhan orang seperti ini tetap masuk Sorga (biarlah Tuhan yang menilai, biasanya orang egois akan masuk Neraka), tapi sama sekali ga mendapat pahala. Jadi ibaratnya, sementara kelimpahan dinikmati para pemenang yang berbuah, orang ini tidak mendapatkan apa-apa, tapi mendinglah daripada disiksa ga karu-karuan di Neraka.

Hal yang terakhir, hasil tuaian adalah suatu yang pasti dalam kerajaan Allah. Ini bicara tentang reward (upah, pahala, penghargaan). Sebelum menutup posting ini, pelajaran penting yang harus dipahami adalah Allah hanya memberikan reward seturut dengan apa yang kita tabur dalam kerajaan-Nya selama kita hidup. Apa yang ditabur, itulah yang dituai. Jadi jangan heran, jika nanti di sorga bisa saja seorang tukang sapu gereja direward lebih besar daripada seorang pengkhotbah. Memang sama-sama masuk sorga, tapi reward boleh beda. Tuhan itu, kalo ngasih reward itu ga main-main, Dia sungguh tahu bagaimana menghargai orang-orang yang mengasihi yang mau menabur dalam kerajaan Allah. Namun demikian reward ini hanya diberikan begi mereka yang mau menantikan Tuhan, bagi mereka yang tanpa henti menabur dan bagi mereka yang tidak jemu-jemu berbuat baik. Nantikanlah Tuhan! Pada waktu-Nya, Tuhan sendiri yang menyatakan segala kebaikan, yang ditahan-Nya demi memurnikan anak-anak-Nya. Firman Tuhan menjamin bahwa apapun yang ditabur pasti akan dituai!

Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mazmur 126:5)

Kekristenan adalah persoalan menabur. Bapa di surga juga menabur, Ia bahkan menabur satu-satunya anak-Nya. Benih itu mati di Kayu Salib. Akhirnya Bapa menuai banyak sekali anak-anak, ya anak-anak itu adalah gereja-Nya. Jumlah ini akan bertambah hari lepas hari jika kita semua mau menabur! Ya 2010 adalah TAHUN TABUR TUAI”, marilah kita tiap hari menabur dalam kerajaan-Nya dan menikmati segala kemurahan-Nya!

In his pastoring,

John Jeshurun