SHARING FIRMAN TUHAN

MEMBICARAKAN FIRMAN TUHAN SETIAP HARI

joinhandsPernah ga kamu sharing firman Tuhan dengan teman-temanmu? Tapi ini kasusnya bukan lagi PA atau persekutuan doa lho! Ya semacam obrolan biasalah, tapi lagi bahas tentang ayat firman, tokoh alkitab atau paling ga khotbah pada ibadah minggu kemarin. Atau ngebahas hubungan pribadimu dengan Tuhan, doa-doamu, pergumulan hidupmu? Atau pernah ga menyampaikan kerinduanmu yang terdalam kepada saudara-saudara seiman dalam Tuhan, visimu, karunia-karuniamu, panggilanmu?

Sharing firman Tuhan itu sangatlah vital untuk pertumbuhan rohani. Tanpa ini, jemaat akan mati rohani. Jemaat yang bertumbuh dan berbuah adalah mereka yang hidup dalam firman Tuhan, memperkatakannya dalam hidup sehari-hari dan menceritakannya ke orang lain. Bukankah cara belajar firman Tuhan yang paling mudah adalah melalui interaksi kita dengan orang lain, siapa tahu mereka punya sesuatu yang berharga yang bisa memberkati kita, demikian sebaliknya.

Ada satu tanda yang paling simpel untuk mengetahui ada atau tidaknya sharing firman dalam kehidupan jemaat. Tandanya adalah efektifitas kotbah pendetanya. Maksudnya gimana tuh? Gini. Apabila pendetanya tuh susah banget nyampekan firman, jemaat suka bengong, harus sampekan pelan-pelan agar mengerti. Mungkin mereka ga pernah tahu bahwa ada seorang nabi Tuhan bernama Hosea. Bahkan ada yang berpikir bahwa Yeremia itu saudara dari Nehemia. Mau cerita sesuatu harus dari awal, kalo ga jemaat ga bisa ikutin. Pendeta berpikir habis-habisan menceritakan suatu awal cerita, sementara waktupun habis, inti pesan utama jadi ga tersampaikan. Tuh tanda ga efektifkan, berarti jemaat jarang sharing firman Tuhan.

Jangan mau ditipu iblis. Sebab, kalo ngomong firman Tuhan di antara sesama, bisa aja dibilang sok rohani, sok suci, ‘obrolannya terlalu berat’, ‘ngomongnya kayak pendeta’, dsbnya. Macam-macamlah. Ini yang buat orang enggan sharing firman Tuhan. Iblis membutakan mata mereka.

Ada lagi yang paling parah, bagi gereja-gereja tertentu, mereka beranggapan bahwa kalo ngomong firman itu adalah urusan pendeta atau orang yang at least tamat STh. Akhh…come on! Ini udah tahun 2009 Bozz! Bukan lagi jaman kegelapan! Yang bener aja! Orang-orang kayak gini yang repot. Mereka ga pernah mau sharing firman langsung face to face saat lagi ngobrol atau ngumpul-ngumpul bareng. Itu aneh bagi mereka. Kalo adapun hanyalah di kelompok sel dan persekutuan doa—yah sebagai formalitas belaka. Sharing firman Tuhan itu ga ada dalam kamus pergaulan mereka. Tau ga kenapa bisa? Karena ga ada teladan langsung. Pendeta sama pendetanyapun ngobrolnya ga pernah nyentuh-nyentuh firman Tuhan atau pergaulan dengan Tuhan. Yang diobrolin itu paling Cristiano Ronaldo atau serangan rudal Israel ke Palestina. Yah, maksudnya hal-hal umumlah. Bukannya ga boleh guys, tapi kalo selama 24jam ga ada satu firmanpun keluar dari mulut ini, ngapain ngaku jadi Kristen?!

Sharing juga bisa berupa kesaksian. Kesaksian rohani ga harus menunggu suatu ibadah. Sampaikan kapan saja ada kesempatan. Biar orang lain diberkati dan dikuatkan. Kenapa orang tertarik dengan Tuhan adalah karena mendengar bahkan melihat kesaksian hidupmu. Ini sudah tahun 2009, jadikan tahun ini momen kesaksianmu. Bersaksilah tentang Yesus. Ini waktunya! Sampaikan di rumah, kost, mal, pasar, sekolah, kampus, kantor. Kalo orang itu percaya kamu bisa mendoakannya untuk menerima Tuhan, but saranku: cari ruangan tertutup. Berdoa di mal sah-sah aja kok, cuman kalo mau efektif (kan dia masih baru) ajak berdoa di ruangan tertutup.

Kita ga bisa hidup sendiri. Kita harus saling menguatkan satu dengan yang lain. Kata ‘saling’ itu bicara interaksi! Bukan satu arah. Bukan cuman dari bapa ke anak. Bukan pula dari kakak rohani ke adik-adiknya. Bisa kok timbal balik. Umat Tuhan harus saling menopang, menguatkan, menghibur, memotivasi bahkan menegur dengan hati yang peduli dan dengan firman Tuhan. Nah, itu baru mantap! :8

May God Bless you,

John Jeshurun

 

 

Satu Tanggapan

  1. Sharing Firman Tuhan memang jauh lebih efektif dibandingkan dengan khotbah. Tapi jangan lupa dimulai dengan doa yang khusuk meminta bimbingan Rohkudus. Kalau tidak, bisa beralih kearah “debat kusir”, kesombongan rohani atau penyimpangan2 lain yang keluar dari maksud Firman yang sebenarnya.
    Karena tujuan sharing adalah agar Firman itu dapat lebih dipahami secara nyata, meyakinkan, menguatkan dan terwujud dalam tingkah laku dan perbuatan.

Tinggalkan Balasan