PANGGILAN & AMBISI

MEMPELAJARI JEBAKAN AMBISI DI GEREJA

ambisiKali ini kita akan membahas hubungan panggilan dengan ambisi. Ambisi merupakan suatu jebakan yang membuat orang keluar dari jalur (path) yang telah Tuhan tetapkan dalam panggilannya. Panggilan dan ambisi itu beda tipis di mata manusia, tapi di mata Tuhan itu sangat kontras! Ambisi mendatangkan murka Tuhan. Sebab sesungguhnya ambisi datang dari manusia. Apa yang datang dari manusia hanyalah kesia-siaan semata, yang datang dari Allah mendatangkan berkat. Marilah kita bahas lebih jauh.

Anak Tuhan yang mengerti panggilannya tidak memiliki ambisi. But, jangan pikir mereka adalah orang yang tidak bersemangat. Tidak berambisi dengan tidak bersemangat itu beda. Mereka yang punya panggilan adalah orang yang bersemangat luar biasa. Alkitab mencatat seorang yang bernama Kaleb seorang yang setia menanti Tuhan selama 45 tahun. Lalu ia mendapatkan miliki pusaka (reward of calling) yang dijanjikan Tuhan pada usia 85 tahun. Kaleb sama sekali tidak berambisi tidak berusaha menggenapkan janji dengan idenya sendiri, dia menantikan Tuhan. Sungguh suatu semangat yang besar, dia berkata bahwa semangatnya masih tetap sama seperti 45 tahun yang lalu.

Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.

Lalu Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya. (Yosua 14:10)

Dear friends, sesungguhnya Tuhan tidak saja memberikan gambaran besar mengenai panggilan seseorang tapi juga membuat suatu path (jalur) untuk dilalui. Kalo kamu mengasihi Tuhan dan mengerti panggilanmu, laluilah path itu, just follow them step by step. Kadang Tuhan membawamu melalui suatu path yang ga masuk akal. Jangan buru-buru protes. Guys, how about Yusuf and Daud? Kedua orang ini memiliki panggilan ilahi dan melewati jalur yang paling ga masuk di akal deh. Bagaimana pula dengan Musa? Lebih parah lagi. Tapi mereka akhirnya berhasil. Sungguh tidak terselami hikmat-Nya. Apa sih tujuan penetapan jalur Tuhan, yang seringkali diluar dugaan itu? This is the answer: Every path that you took was designed by God to kill your ambition. Setiap jalur yang kamu lalui, dirancang Tuhan untuk menghancurkan ambisimu, sehingga Tuhan dapat bekerja sepenuhnya di dalam dirimu. Sehingga kamu akan berkata, “Bukan aku lagi, tapi Kristus yang bekerja di dalam aku. Btw, dear guys, jalur yang ditempuh tiap-tiap orang itu beda, so kenali jalurmu dan ikuti step by step. Ingat, dalam Tuhan ga ada yang instan!

Yang menghalangi orang untuk berhasil dalam panggilannya adalah ambisi. Ini pula yang membedakan hamba Tuhan yang luar biasa dengan average man of God. Buktikan saja! Hanya 10% dari hamba Tuhan yang melayani yang benar-benar menjadi berkat. Tidak saja memberi berkat tapi memberikan pengaruh. Mereka adalah orang-orang yang telah mati terhadap ambisi pribadi-mereka inilah yang dimaksud Tuhan sebagai terang dunia. 90% lagi adalah orang-orang yang ‘sibuk’ bekerja di ladang Tuhan namun sulit berbuah. Ini semua karena ambisi! Ibarat garam yang tawar demikianlah mereka tidak lagi memberikan pengaruh bagi dunia ini. Bicara tentang pengaruh, just look at your church! Jangan bilang di sini tempat Tuhan Allah yang hidup bersemayam, sebelum gerejamu benar-benar memberikan pengaruh, at least terhadap pengunjung baru! Kita tidak akan pernah bicara lebih jauh tentang melayani masyaratkat sekitar gereja (eksternal influence) sebelum gereja benar-benar memberi pengaruh terlebih dahulu di dalam. Jika Allah ada di sana, people changed. Gereja yang mati tidak akan pernah beri pengaruh apalagi mengubah orang-orang.

Fakta lain yang menarik mengenai ambisi adalah, bahwa orang-orang yang penuh ambisi kebanyakan mengalami gangguan mental seperti tertekan, jarang senyum, mudah marah dan arogan. Pernah tahu, pendeta yang suka marah-marah di mimbar? Barangkali beliau penuh dengan ambisi. Kalo benar pelayanan datang dari Tuhan, mengapa harus ngotot? Apalagi, bila suatu proyek di gereja gagal, pendeta mulai cari kambing hitam dan tanpa sadar pakai mimbar lagi untuk ‘melampiaskan’ kekesalan. Ga heran di masa tuanya, banyak pendeta bukannya hidup bahagia, malah stress, bahkan ada yang terkena stroke. Aku sering berkata, mau tau pendeta yang benar, coba liat aja ekspresi istrinya saat beliau khotbah, masih tetep antusiaskah? Atau sedih or confused? Sebab orang yang paling banyak menanggung kemarahan dan kekesalan pendeta adalah istrinya. Lain cerita kalo dua-duanya partner in ambition, maka anak-anaklah yang kena getahnya. Ga heran, dibujuk kayak apapun si anak akhirnya ga akan pernah suka menjadi pendeta kayak papa atau mamanya. Bahkan beberapa anak pendeta ada yang menjadi nakal. Membuat orang-orang bertanya, kok bisa ya anak pendeta jadi nakal, ketahuilah itu bukan salah mereka.

Remember, Ambition some day will kill you. Ambition will kill your ministry. Ambisi mendatangkan stress. Ambisi mendatangkan murka Tuhan. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Sebaliknya, orang yang punya panggilan dan berjalan di jalur Tuhan tidak akan dilanda stress, sebab mereka memberi hati mereka kepada Tuhan dan mereka senang terhadap jalan-jalan Tuhan!

Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, biarlah matamu senang dengan jalan-jalanku. (Ams 23:26)

Pemimpin ambisius di gereja sesungguhnya adalah monster pembunuh domba-domba Allah yang tulus dan polos. Domba-domba ini sebetulnya mengasihi Tuhan dan hormat kepada pemimpinnya, namun sang pendeta malah menyia-nyiakan dan memperalat mereka semata-mata demi ambisi! Betapa kejinya! Cepat atau lambat, jemaat akan sadar bahwa mereka cuma alat yang dimanfaatkan untuk mewujudkan ‘visi’ (baca: ambisi) pendeta yang ‘katanya’ dari Tuhan. Oh, Tuhan, tunjukkanlah kiranya jalan bagi kami domba-dombamu karena Engkaulah Gembala yang baik bagi kami. Hanya Engkaulah satu-satunya harapan kami dan jadilah pemimpin bagi kami. Bawa kami masuk selalu dalam jalan-jalan-Mu. Amin!

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan (path) yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Mzm 23)

May God Bless His People,

John Jeshurun

Tinggalkan Balasan