MEMAHAMI PENTINGNYA KHOTBAH DI GEREJA
Kali ini mau post tentang khotbah. Ada dua hal yang utama di gereja: penyembahan dan khotbah. Jadi mau ngebahas tentang khotbah lagi. Bukan cara berkhotbah, kalo tentang cara, aku pernah juga post tentang TIPS BERKHOTBAH. Kali ini mau bahas tentang gimana khotbah di gereja dan komunikasi. Dear guys, ada yang namanya ilmu berkhotbah yaitu Homiletika. Di sekolah theologia dijadikan mata kuliah wajib. Namun sebetulnya berkhotbah, bukanlah sekedar pandai bicara di depan publik (public speaking) dan bukanlah mahir berpidato semata, melainkan lebih dari itu, berkhotbah adalah berkomunikasi. Saat berbicara di mimbar, kita sedang mengkomunikasikan sesuatu. Saat tidak ada yang dikomunikasikan lagi, saat itulah orang ‘merasa’ sebuah khotbah kelamaan, padahal baru jalan 15 menit
Berkhotbah sesungguhnya adalah berkomunikasi. Pengkhotbah besar juga adalah seorang komunikator yang handal. Setiap kata yang diucapkan mereka selalu dinanti-nantikan oleh pendengarnya. Ta ada yang ngantuk atau yang teralih pikirannya. Itulah komunikasi yang berhasil. Untuk berkomunikasi dengan efektif, hanya perlu belajar dan itu dilakukan seumur hidup. Usia boleh tua, tapi kalo mau terus jadi berkat, jangan pernah berhenti belajar. Asal mau belajar, kita akan terus muda dan ga ada matinya. Kalopun saat ajal tiba, kita meninggalkan warisan yang paling berharga kepada generasi berikutnya.
Saat ini adalah jaman di mana orang senangnya buru-buru, ga sabaran dan gampang jenuh. Contohnya nonton TV dengan banyak chanel. Bayangkan aja, baru-baru ini TV kabel langgananku tambah lagi menjadi 75 channel. Wah, apalagi untuk aku yang jarang nonton TV, dikasih channel sebanyak gitu. Namun, ya gitulah. Bicara tentang nonton, biasanya kalo ga suka suatu acara, ya kita tinggal pencet remote dan pindah ke chanel yang lain. Bahkan ada beberapa orang yang merasa terhibur justru dengan kegiatan pindah-pindah channel tersebut. Nah, bagaimana kalo pas kebaktian kita kurang suka dengan khotbahnya, so, mau pindah channelnya kemana? Ada channel lain ga? Ada. Nanti kita bahas.
Sedihnya sekarang beberapa ‘ahli gereja’ menganggap bahwa khotbah yang wajar itu 30-45 menit. Menurut mereka, kemampuan manusia hanya bisa menangkap pesan selama durasi waktu tersebut, jika lebih maka akan kurang efektif. Nah, ini yang paling ‘diterima’ seluruh jemaat di seluruh dunia. Duh, aturan darimana yah? Bandingkan misalnya kalo shopping, 3 jam aja rasanya kurang, apalagi lagi kalo lagi hang out atau main game online yang bisa kita habiskan seharian. Hmm, rasanya ga fair kalo kita batasi Tuhan 45 menit saja. Sebenarnya, ga papa kok menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kita sukai, it’s fine. Namun selayaknyalah kita menyisakan menyisihkan waktu yang baik dan berkualitas untuk Tuhan, pribadi maupun saat ibadah minggu bersama.
Aku pernah menghadiri suatu ibadah yang dimulai jam 19:00 dan selesainya hampir jam 24:00. yang hadir sekitar 700 orang. Firman Tuhan dibagikan nonstop selama 3 jam lebih (tanpa pariwara), tapi ga ada yang bosan dan ga seorangpun yang pulang. Kalo bukan karena pembicara mimbar yang menghentikan, rasanya masih pengen lanjutin denger firman Tuhan. “Wah, udahan ya, besok lagi, sudah kemalaman nih.” Ucapnya dengan peduli. Baru kali ini ada pendeta yang ‘mengusir’ dan menyuruh pulang audiencenya he..he, itupun dia hanya diundang sebagai pengkhobah tamu. Jelas banget, beda jauh pendeta yang melakukan panggilannya dengan pendeta yang cuma menjalankan profesinya. Dia adalah seorang komunikator. Bicara tentang pengkhotbah tamu, terkadang sebuah gereja lokal mengundang pembicara dari kota lain nun jauh. Please, think of this: masakan mengundang seorang pendeta jauh-jauh dari luar kota hanya dikasih 45 menit? Waktu yang dipakainya untuk saat lunch aja bisa lebih lama.
Walau demikian, kalo aku yang jadi pengkhotbah tamu, maka aku akan disiplin memakai waktu 45 menit itu, ga boleh lebih. Bener-bener dimanfaatkan semaksimal mungkin. Aku s’lalu membiasakan diri menghormati ‘budaya setempat’, kecuali sang gembala jemaat yang meminta dan menyediakan waktu lebih. Ini prinsip. Selama 45 menit (termasuk doa dan nyanyiannya) aku bener-bener push dan melepaskan khotbah yang efektif sehingga jemaat bener-bener menerimanya dengan baik-itu aja! I always get my audience’s attention.
Nah, apakah bener orang memberi diri selama 45 menit waktu khotbah? Ternyata ngga juga. Kenyataannya seringkali 45 menit untuk mendengar khotbah juga terbuang begitu saja. Orang bilang begini: masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Itu mah masih mending. Bagaimana kalo ga masuk sama sekali? Yang namanya manusia itu paling susah duduk diam. Be Quiet! Be Still! Itu susah banget. Sementara firman Tuhan dibagikan, pikiran malah buyar. Ibarat nonton tv, inilah saatnya orang di gereja mengganti channel lain, hanya saja itu terjadi dalam benak mereka. Berbagai jenis pikiran muncul saat khotbah dibagikan. Mungkin beberapa ada yang lagi mikir ngurus pasporlah, bayar pajak, dan bayar tagihan, bayar perpuluhan, bayar spp, bayar hutang dsbnya. Hal-hal mengenai uang biasanya menjadi bahan pikiran nomor satu. Ada yang mikir bisnis dan kerjaan kantor. Ada juga yang mikir habis ini mau kemana, misalnya mau nonton dan jalan-jalan. Beberapa ibu-ibu, ada juga yang membuat catatan, isinya ternyata bukan tentang khotbah, tapi daftar belanjaan mingguan-sebab abis kebaktian, keluarga bakal lunch di mall, so sekalian shopping aja. Beberapa kaum muda lewat smart phone dan BB, ada yang sempat-sempatnya chatting, browsing dan maen facebook, sampai dengan polosnya mengupdate status terkini: “khotbah kali ini rada boring”. Yang paling klasik dilakukan saat khotbah adalah membaca warta, padahal tadinya sudah dibaca sebelum ibadah dimulai. Nah, kalo ada alat tulis, lebih seru lagi. Warta yang formal itu berubah jadi funky, dipenuhi coretan kreatif bahkan ta jarang ada lukisan abstrak
. Nah, kalo gini apanya yang gagal? Jelas, bukan salah jemaat, selain khotbah yang kurang komunikatif, ada faktor lain juga. Kita bahas faktor yang lain itu dahulu.
Sudah sering aku tulis di beberapa post dan kali ini tetap aku tulis kembali, bahwa seringkali yang menjadi sandungan dalam mendengar khotbah adalah para pelayan dan para pengerja sendiri. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang sama sekali ga punya kerinduan akan Tuhan, tapi suka tampil melayani. Ya, suka pelayananlah. Mungkin kalo ga dikasih melayani mereka bisa jatuh sakit. Beneren lho! Hmm, kok bisa cinta pelayanan, tapi ga cinta Tuhan. Aku ga ngerti. Nah, para pelayan Tuhan ini ga bisa jadi teladan dalam hal menyimak dan memperhatikan firman saat khotbah berlangsung. Mereka sibuk mondar-mandir, ngobrol dan keluar masuk seenaknya. Kalo dalam acara rohani (apa aja deh bentuknya, termasuk natal), biasanya yang jadi sandungan itu panitianya. Panitia suka melakukan apapun dalam suatu acara, kecuali satu hal, menikmati firman Tuhan. Kenapa ya, sebagian orang ini lebih concern ke ‘pelaksanaan’ acara, ketimbang ‘esensi atau isi’ acaranya? Ada yang ga beres. Yang kayak gini mau jadi berkat? Makanya jangan heran, yang diliat tuh bukan pengkhotbah atau gembala suatu gereja semata, tapi juga para pelayan Tuhannya atau jemaat senior. Silahkan aja buktikan sendiri. Ini berlaku di seluruh gereja tanpa kecuali. Katanya mau transformasi, katanya mau jadi terang bagi bangsa-bangsa. Trust me, ga akan ada yang namanya transformasi atau apalah istilah rohaninya. Yang namanya perubahan itu selalu dapat diukur (measurable). Let me tell you a secret, bahkan orang yang belum percaya aja tahu kok perbedaannya. Dan sedihnya mereka ga akan pernah tertarik kepada Tuhan, karena merekalah yang paling kesandung, duh
. Inilah faktor kenapa khotbah gagal, di samping tentunya kemampuan komunikasi dari pengkhotbah. Mari kita lanjutkan.
Kesalahan terbesar pembicara di mimbar gereja adalah penekanan yang lebih besar kepada pesan, bukan kepada audience. 75% pendeta masih punya mindset seperti itu. Pada akhirnya mereka akan kehilangan pendengarnya. Come on, ini bukanlah jaman baholak lagi. Pendeta dengan paradigma lama ini beranggapan bahwa mereka wajib didengar karena mereka hamba Tuhan. Ingat, ga ada orang yang mau dipaksa melakukan sesuatu yang bukan keinginannya. Termasuk juga mendengar khotbah. Mereka bukanlah komunikator, melainkan diktator. Mereka kurang peduli dan tidak mengenal baik pendengarnya, sehingga firman Tuhan berlalu begitu saja. Bayangkan dengan kondisi seperti itu, maka hari sabat (perhentian, istirahat, rileks) justru menjadi beban. Orang lebih bersukacita menonton konser musik daripada pergi ke rumah Tuhan, karena gereja bukan lagi tempat relaks. Sabtu udah dimaksimalkan untuk menikmati weekend, eh Minggu bukan malah tambah segar, melainkan tambah beban. Terutama karena khotbah yang ‘dirasa’ kelamaan. Udah gitu, jemaat bete, eh pendetanya tambah asyik sendiri di mimbar, imagine that!
Kalo diibaratkan, berkhotbah itu adalah mengisi bejana-bejana yang kosong dengan air hidup (firman Allah). Bagaimana mungkin mengisi air, tanpa membuka tutup botol terlebih dahulu? Tugas yang paling krusial selama 5 menit pertama khotbah adalah membuka hati jemaat terlebih dahulu. Baru air dengan mudah diisi sampai penuh. Apalagi kalo khotbah di hadapan wajah-wajah baru, misalkan diundang berkhotbah. Ingat, buka dulu, baru isi. Hal, ini tentu saja ga berlaku kalo khotbah di hadapan jemaat tipe ‘drum-drum terbuka’, yaitu jiwa-jiwa yang kelaparan akan Tuhan. Please deh jangan banyak basa-basi, lemparkan roti secara melimpah, biarkan mereka menyerap setiap tetes air kebenaran dan dipuaskan! Berkhobah di hadapan ‘drum yang terbuka’ justru menambah energi baru (semua komunikator mengerti hal ini). Namun demikian, membuka ‘botol tertutup’ juga memiliki tantangan tersendiri. Itu dapat dilakukan dengan pendekatan yang benar.
Mengenal audience itu penting untuk pendekatan komunikasi. Bagaimana membedakan ‘botol tertutup’ dengan ‘drum terbuka’? Kamu akan tahu melalui pengalaman berkomunikasi. Lihat feedback mereka. Jadilah peka. Minta bantuan Roh Kudus untuk membedakannya. Belajarlah! Keberhasilan berkomunikasi sangat ditentukan dari pengenalan audience. Menyampaikan khotbah lebih dari sekedar pengaturan vokal, pengaturan tone suara, pemilihan kata-kata, dan body language. Itu cuma hal-hal teknis. Kamu para pengkhotbah muda, dapat meningkatkan kemampuan teknis tersebut lewat cara yang sederhana yaitu mendengar ulang khotbahmu sendiri lewat tape atau lebih bagus lagi nonton lewat rekaman handycam. Temukan, apa saja kekuranganmu. Bandingkan dengan sebuah video khotbah yang berkualitas. Semua hal tersebut dapat kita lakukan secara berkala. Namun ingatlah, sesungguhnya mengenal audience jauh lebih penting.
Saat berkhotbah (khususnya saat diundang), aku membiasakan diri datang lebih awal dan mengikuti kebaktian dari awal. Sekali-kali aku melirik jemaat yang berdatangan. Menyalami jemaat yang bisa dijangkau. Menyaksikan bagaimana mereka menyembah dan memuji Tuhan. Merasakan atmosfer jemaat, melihat kerinduan mereka. Itu adalah salah satu input mengenal audience yang sangat bermanfaat sebelum khotbah. Pas naik ke mimbar, abis doa pembukaan, 2-3 menit, aku sudah tau tipe jemaat kayak apa sih yang ada di hadapanku. Ga butuh waktu lama. Barulah kusampaikan khotbah terbaikku. Sementara khotbahpun, aku menerima feedback dari jemaat. Inipun masih termasuk mengenal audience, sejauh mana daya tangkap mereka, seberapa dalam pengertian mereka dan seberapa besar kerinduan mereka. Topik khotbah ga berubah kok, hanya pendekatan terhadap jemaatlah yang diganti sesuai dengan kebutuhan mereka. Cara, metoda atau gaya boleh beda, intinya supaya firman Tuhan bisa mengalir, mengisi bejana-bejana. Inipun masih harus aku latih seumur hidup. Kalo gereja ga berpikir bagaimana menarik perhatian jemaat, maka seratus tahun lagi gereja akan ditinggalkan. Begitu pesatnya pertumbuhan industri hiburan dan entertaintment saat ini. Kalo tidak mempersiapkan diri, gereja justru terlindas dan mati.
Terakhir, kesederhanaan dalam pesan adalah hal yang terutama yang menentukan kerbehasilan berkomunikasi. Komunikator membuat hal yang sulit menjadi sederhana, sehingga mudah dicerna. Khotbah di gereja harusnya merupakan suatu bentuk komunikasi dari hati ke hati. I don’t know about other preachers, saat aku khotbah, aku berbicara seolah kepada pribadi-pribadi bukan kepada ‘hadirin yang dimuliakan’, soalnya ‘hadirin’ itu sudah hancur karena hadirat Tuhan saat doa pembukaan khotbah. Sudah terlalu lama, kita melakukan segala hal di gereja for hadirin’s sake not for God’s sake. Ini yang selalu terjadi, ga peduli yang hadir 2 atau 20 atau 2000 orang. Jadi, ini bersifat personal, tulus, sederhana, apa adanya dan to the point! Tuhanlah yang dimuliakan, bukan lagi ‘hadirin’. Saat semua hati sudah siap dan terbuka, maka Tuhan bisa bekerja leluasa melalui hamba-Nya dan seluruh jemaat dijamah dan diberkati secara luar biasa
!
In His Love & Mercy,
John Jeshurun
DIarsipkan di bawah: GEREJA, LEADERSHIP, MARKET PLACE, PANGGILAN | Ditandai: cara berkhotbah, firman tuhan, GEREJA, ibadah minggu, karunia roh kudus, KEBAKTIAN KEBANGUNAN ROHANI, kebaktian minggu, khotbah, KHOTBAH MINGGU, KOMUNIKASI, melayani, PELAYAN TUHAN, pelayanan, PEMBICARA, PENGAJARAN, PUBLIC SPEAKER, PUBLIC SPEAKING, tips berkhotbah
shalom pak John,kl ada hamba Tuhan yg kotbah sllu menyindir org,itu gmn y pak?tq
.
ada satu hal lagi pak,mgkn ini agk menyimpang dr topik.sy mau tny n mgkn tmen2 ada yg bs bantu.apa yg hrs kita lkukan jika gembala kita udah mulai membawa gereja yg digembalakannya kearah yg menyimpang(gereja kemakmuran)?apakah kita hrs ttp taat kpdnya sedangkan tlh byk fulltimer yg dicampakkan krn beda pndpt dgnnya..tlg..sy tdk ada tpt utk sharing..tq
.
@Nathan.
Hmm, nyindir adalah salah satu bentuk intimidasi di gereja. Tahukan intimidasi? Intimidasi di gereja dilakukan oleh tipe pemimpin manipulatif, dengan tujuan supaya orang takluk dalam kekuasaannya. Ada warna politis yang kuat dalam kepemimpinannya. Karena mimbar dalam genggaman, maka pikirnya itulah media yang pas. Ada beberapa gembala yang seperti ini. Mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya cara ini salah paling ga efektif dalam menegur orang lain. Bukannya membawa orang kembali, malah semakin jauh dari Tuhan dan orang yang disindir merasakan penuduhan.
Menurutku kenapa pemimpin ga mau menegur sesuai saran firman Tuhan, yaitu mendatangi 4 mata adalah karena pemimpin kehilangan ketulusan, kehilangan belas kasihan dan sedang diliputi (perhatikan ini senjata Iblis) kepahitan.
Gembala yang kepahitan tanpa disadari dapat jg dipakai (Iblis) untuk meneruskan kekekecewaan dan menyakiti orang lain.
Bagi orang yang kena sindir:
1. Bertobat, mungkin yang dibilang itu benar, sekalipun caranya ga bener.
2. Jangan lari dari anugerah Tuhan, berlindunglah dari panah-panah si jahat, jauhkan diri dari kepahitan dan pemberontakan
3. Itu juga adalah cara Tuhan untuk melatih kita agar ga mudah menyerah dalam intimidasi.
4. Last: kobarkan segala karunia Allah, jangan biarkan kerajinanmu kendor, biarkanlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
.
@Nathan, masalah Gereja Kemakmuran
Kamu harus banyak berdoa. Kita hidup dipimpin oleh Roh, bukan daging. Jangan pernah ambil keputusan saat berada di dalam daging. Jangan mengambil keputusan yang didasarkan oleh emosi dan kepentingan diri sendiri semata.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah berdoa untuk pemimpin. Bagaimanapun merekalah orang-orang yang Tuhan tempatkan demi kebaikan kita.
Ada dua jawaban Tuhan:
1. Tuhan kasih tau untuk tinggalkan tempat itu–>maka segera kabur!
2. Tuhan tidak memberi tahu, tapi Tuhan lagi liat hatimu dan membiarkan sebentar untuk melihat apa yang akan kamu perbuat. Di sini dibutuhkan kepekaan. KITA HARUS MAU MENGASIHI ORANG YANG MENZHOLIMI KITA! Cara yang paling mudah adalah mendoakan supaya Allah memberkati mereka. Ingat Tuhan sedang memurnikan kita. Kalau tidak ada suara Tuhan, that’s time to wait on the Lord!
Daud harus berterimakasih kepada Saul, karena Tuhan memurnikan Daud melalui Saul. Karena Saul, Daud menjadi semakin intim dengan Tuhan. Daud bahkan memberkati dan berbuat baik tidak saja pada Saul melainkan kepada keturunannya.
GEREJA KEMAKMURAN itu penyakit menular, MEMANG HARUS DITINGGALKAN. Namun, sebelum mengambil keputusan, ketahuilah dulu, apa kehendak Tuhan. Sampai kita bisa mendengar-Nya, maka barulah kita bertindak. Jika belum, just wait on the Lord.
Kalo anak Tuhan ga bisa dengan suara Bapanya sendiri, apa ga celaka tuh. Cara paling mudah mendengar suara Tuhan adalah masuk dalam pergaulan dengan Dia setiap hari. Harus mau tampil beda, jangan jadi orang mediokritas!
.
terimakasih pak atas masukannya.kami akan coba utk lbh peka thd suara Tuhan.sy n istri br brtobat setahun yg lalu.kami bkn kristen dr lahir.sekali lagi,thanks pak..
oya pak john..mumpung bs brkomunikasi ma anda,sy mau mnt tlg (maaf sebelumnya) ajarin sy utk brdoa syafaat yaitu doa pnutup ibadah.sy udh jd pendoa krn pengerja yg sblumnya udh tdk melayani.tq..God Bless
.
Ps John, terimakasih atas tulisan2 anda, saya sangat diberkati oleh rhema yang ada bagikan, boleh tahu anda bergereja lokal dimana?
thanks,GBU
.
@Nathan, next time aku post ttg Doa Syafaat, ok.
@Danny, makasih. Pokoknya gereja Yesus Kristus deh Pak. Well, sementara ga dicantumin di blog nama gerejanya ga papa kan. Yang penting bisa jadi berkat dan berdiri dalam FT.
.
trims tulisannya, aku diberkati dengan tulisan ini
doa kami tulisan anda jadi berkat bagi banyak orang terutama hamba Tuhan di desa seperti saya, JBU HLL
.
kapan2 ke surabaya Pak. saya kepingin dengerin kotbahnya pak Jon.
.
@Listyono. Makasih Pak. Tuhan juga kiranya menyertai pelayanan Bapak dan menjadi berkat bagi jiwa-jiwa yg dilayani.
@Adi Surya. Ok Sip Pak.
.
oh iya pak Jon. kalo gitu tolong cantumkan jam dan alamat nya ya pak. pingen tau orangnya hahahaha.