MENGETAHUI MANFAAT BESAR MEMBACA BUKU
“Anda akan tetap sama hari ini atau lima tahun lagi, kecuali dalam dua hal, orang-orang yang bergaul dengan anda dan buku-buku yang anda baca” – Charles “Tremendeous” Jones.
Aku suka membaca buku. Sebulan ini aku lagi baca buku Charles Swindoll, yaitu buku Seri Tokoh Terbesar yang cukup terkenal. Swindol menulis semacam profil, bio dan karakter dari tokoh-tokoh alkitab yang sudah diterbitkan sejak tahun 1997. Semua seri Tokoh Terbesar ini adalah maha karya Swindoll di usia tuanya, dengan segala pengalaman, wawasan serta pergaulannya dengan Tuhan. Awalnya cuman sih beli “ELIA”, hmm karena bagus banget, maka langsung beli 3 lagi yaitu seri “DAUD”, “MUSA” dan “YUSUF”(Terjemahan Indonesia terbitan Nafiri Gabriel). Buku “ELIA” bagus banget dan habis kulahap selama dua minggu. Jadi bertanya-tanya, kenapa Chuck Swindoll bisa menulis buku sebagus itu. Merupakan kebiasaanku, apabila menikmati sebuah buku bagus, maka akan mencari buku-buku lain karya penulis yang sama.
Dari kecil memang aku sudah suka membaca, khususnya dongeng atau cerita yang ada ‘moral of the storynya’ yang bersifat membangun atau menghibur seperti karya Hans C. Andersen. Cerita detektif yang bikin penasaran, seperti Sherlock Holmes maupun buku-buku Agatha Christie juga aku minati. Saat mahasiswa, aku suka berada di perpustakaan berlama-lama. Baca apa aja. Pengetahuan umum, sosial, sains dan relationship. Sifat membaca ini sebenernya nular dari temen-temen (thanks to them).
Walau demikian, aku kurang menyukai novel, beda dengan salah seorang temanku yang bisa melahap buku Davinci Code hanya dalam dua malam. Aku lebih memilih menonton filmnya aja deh. Dia juga mengoleksi serial Harry Potter-yang telah coba aku baca-namun tetap aja ga selesai. Lagi-lagi, mending nonton filmya. Temanku ini sebagai penggemar novel ternyata punya taste yang beda, saat dia berkata buku Laskar Pelangi lebih ‘menggigit’ ketimbang filmnya. Sementara aku lebih memilih mengoleksi serial Chicken Soup, yang sampai saat ini belum ada filmnya.
Trust me, sebelum bercerita lebih jauh, jangan pikir aku nih seorang kutu buku, dengan kacamata tebal dan tampang profesor
, ga lagi. Lebih cocok aku nih tampang traveler, yang suka bawa tas ransel di punggung dan memakai kacamata gelap seperti jagoan film Matrix. Namun begitu aku menyukai buku. Apabila bepergian pelayanan, liburan atau kemana aja, selalu membawa satu-dua buku. Saat kunjungan atau nunggu janji ketemu orang yang telat, termasuk saat masuk dalam sebuah antrian, buku setia menemani. Tiap pagi aku membaca buku. Intinya, tiada hari berlalu dalam kehidupanku tanpa membaca buku.
Nah, boleh tahu ga buku apakah yang kamu baca belakangan ini? Ketahuilah, jika kita ingin menjadi berkat dan berhasil dalam panggilan kita, maka kita harus mau belajar, di mana salah satunya adalah dengan membaca buku. Secara khusus, aku berusaha mendorong banyak orang untuk membaca buku-buku mengenai Tuhan. Buku-buku pengetahuan dan umum itu memang besar manfaatnya, sebatas untuk menambah wawasan, untuk mendukung karir, mengasah pola pikir, namun buku-buku mengenai Tuhan baik bagi roh kita dan membawa kita kepada kekekalan. Apa yang kelihatan itu hanya sementara, yang tidak kelihatan itu bersifat kekal. Aku juga mengoleksi berbagai buku umum, namun tidak sebanyak buku-buku rohani. Oh ya, semua buku-buku yang dikoleksi ini untuk dibaca lho, bukan sekedar pajangan, bahkan beberapa buku dibaca berkali-kali. Seperti nasehat Oswald Sanders, “Jika kita membaca karena ingin merasa hebat atau dianggap berpendidikan hal itu tidak ada gunanya atau lebih buruk dari itu”. Sebab itu, belilah buku yang bener-bener untuk dibaca saja.
Kini, buku-buku Chuck Swindoll kini mulai menghiasi rak bukuku. Namun, lebih mendominasi buku-buku John C. Maxwell (ada selusin). Aku juga lagi nunggu-nunggu buku ketiga dari Joel Osteen. Hmm, spertinya John Bevere juga belum keluarkan buku terbaru. Aku juga suka melahap buku Roberts Liardon, Bill Johnson, Dale Galloway (On purpose Leadership-harus baca ulang-ulang) dan John Mason. Kalo kamu seorang pelayan, pengerja atau pemimpin sel, maka sama sepertiku, mungkin kamu juga menyukai tulisan Rick Warren, Dick Iverson, Jack Hayford, HB. London, Peter Wagner, Brian Bailey atau Josh McDowell. Mereka adalah penulis yang dipakai secara luar biasa oleh Tuhan.
Aku juga suka membaca buku-buku klasik (‘klasik’ means beyond trends) karya Oswald Sanders, Andrew Murray, Watchman Nee, Anthony de Mello, Cecil Osborne, Tommy Tenney, Stephen Tong, Madame Guyon, Les Parrot, Florence Littauer dan banyak lagi. Paling asyik juga, kalo duduk rileks ngopi sambil membaca buku SERI SELAMAT maha karya Andar Ismail (aku ampe koleksi beberapa) atau MURID SEJATI karya Juan Carlos Ortiz. Kalau saat menghadapi ancaman gempa hari-hari ini, aku diingatkan sebuah buku yaitu KOTA DOA (ini sebenernya isi hatiku juga), yang menurutku merupakan karya terbaik dari Jimmy Oentoro. Masih banyak nama penulis lain di rak bukuku, yah cuma beberapa yang inget saat nulis posting ini. Tidak jarang juga aku membuat ringkasan dari buku-buku yang kubaca. Buku yang bagus, biasanya penuh dengan coretan, tanda tanya, stabillo, underline dan catatan khusus.
Kita berhenti sejenak. Mungkin di antara temen-temen pernah mendengar pernyataan sepertinya kedengaran rohani banget, “Kita harus menyukai Alkitab dan jangan pernah menggantikannya dengan buku-buku rohani manapun!” Atau “Bagi saya hanya Alkitab, buku-buku rohani jarang sekali saya sentuh.” Sebenarnya pernyataan ini klise dan ga beralasan, udah itu, banyak yang latah ikut-ikutan pula. Ini hanya permainan kata-kata dan TIDAK MEMBANGUN sama sekali
. Please, think of this: kok bisa ya para ahli taurat (ahli alkitab) justru bermusuhan dengan Yesus? Alkitab tanpa tuntunan yang bener dapat menjadikan kita seorang Farisi. Ini juga berarti bahwa seorang Kristen masih dapat meluncur ke neraka sambil memeluk Alkitab. Well, ini bukan jamannya lagi bermain kata-kata. Sepertinya indah, tapi itu bisa membingungkan, please, jangan ada lagi kalimat seperti itu. Tokoh kebangunan rohani dan pelopor gerakan kekudusan- John Wesley saja membaca ribuan jilid buku dan itu bukan cuman buku rohani. Mungkin ada yang protes dan berkata, “Tapi, hamba Tuhan yang ini atau hamba Tuhan itu lho ya ngomong gitu. Smith Wigglesworth, seorang hamba Tuhan yang pernah membangkitkan belasan orang mati memang pernah ngomong begitu, tapi tetap aja semua khotbah-khotbahnya dibukukan. Nanti kita bahas kenapa ucapan-ucapan tertentu tidak bisa ditelan mentah-mentah, inilah awalnya kenapa muncul banyak aliran kekristenan-aku akan buat dalam satu posting khusus.
Semua buku-buku yang ditulis dengan semangat dan kuasa Roh Kudus dapat membangun dengan cara-Nya tersendiri. Allah turut bekerja dan kuasa urapan juga dapat mengalir lewat sebuah buku menjamah pembacanya. Sebuah buku dapat mengubah orang. Sebuah buku dapat menjadi inspirasi. Buku yang baik dapat menjadi teman yang menasehati, menegur, membimbing dan mengajar. Dalam berbagai kesempatan, justru Tuhan beberapa kali menjamah hatiku lewat beberapa buku, baiklah kuberikan saja salah satu contoh bukunya.
Guys, numpang nanya, apa ada yang pernah membaca buku Kerinduan akan Allah yang Sejati? Penulisnya Don Richardson, dia adalah seorang Antropolog. Thanks God! Buku ini mengubah hidupku selamanya. Cara pandangku terhadap para kafir dan penyembah berhala berubah 180 derajat. Ini yang bikin aku berhenti bersikap menghakimi, karena Allah sendiri punya gagasan indah yang tersembunyi terhadap orang kafir sekalipun. Ini juga yang bikin aku keluar dari kepongahan rasa nyaman “Umat Pilihan” atau kesombongan keunggulan denominasi atau aliran. Buku telah kubaca 10 tahun lalu dan masih diulang-ulang. Very recommended.. Jika semua orang Kristen harus membaca buku Your Best Life Now karya Joel Osteen, maka menurutku, semua hamba Tuhan harus baca buku Don Richardson, Eternity in Their Hearts (Indonesia: Kerinduan akan Allah yang Sejati, penerbit Kalam Hidup). Yah, inilah salah satu dampak positif bagiku saat membaca buku. Masih banyak buku-buku lain yang mengubah cara hidupku, cara pandangku, but next time aja guys, ntar kepanjangan he..he..
Bacalah buku-buku yang dapat menyegarkan rohmu dan memotivasi kehidupan sehari-hari. Baca buku yang menguatkan batinmu dan membakar imanmu. Jangan pula ragu, membaca buku yang mampu membawa kamu dalam pertobatan dan jangan pernah merasa malu membaca buku yang bisa memulihkan hidupmu, karena semua yang kamu lakukan hanya di hadapan Tuhan semata. Baca juga buku-buku berisikan kesaksian, sehingga kamu juga merasa dikuatkan dan diteguhkan. Baca buku-buku yang bisa menyembuhkan dan memulihkan kehidupan pribadimu. Baca buku yang membuat kamu terinspirasi dan berhenti menjadi orang yang biasa-biasa saja. Baca buku yang membuat kamu semakin intim bergaul dengan Tuhan. Ya, bacalah buku-buku yang membuat kamu kembali kepada kasih mula-mula, yang membuat kamu bangkit dari kelesuan sehingga membuat kamu membara mengejar dan mengerjakan panggilanmu. Buku-buku jenis ini tidak saja membawa dampak untuk hidup saat ini, tapi juga sampai kepada kekekalan.
Buku-buku rohani yang bagus ibarat menikmati makanan
. Yah, mungkin kesukaan kita beda-beda terhadap sebuah buku, sama seperti kesukaan terhadap makanan/masakan. Namun intinya adalah, dengan membaca buku rohani, kita sedang memberi makan roh kita. Bahkan Allah mendesain seluruh isi hatinya lewat sebuah buku: Alkitab. Proses kejadian Alkitab bukanlah sebuah kebetulan. Ada campur tangan Allah, sehingga alkitab yang ada sekarang ini, bisa sampai ke meja kamar kita masing-masing. Alkitab adalah sumber makanan, sumber nutrisi untuk pertumbuhan roh kita. Alkitab adalah sumber nutrisi utama, walau demikian Roh Kudus, yang mengilhami penulisan Alkitab juga mengurapi hamba-hamba-Nya dengan banyak buku-buku berkualitas.
Bersyukur sekali, pada kesempatan ini aku juga ingin mengucapkan selamat kepada Mbak Nancy Dinar, salah seorang senior blogger Kristen yang baru saja menerbitkan buku pertamanya: TURNING HURT INTO HOPE (Indonesia, terbitan Metanoia). “Mbak Nancy, soon I’ll get the copy in the bookstore.” Walau hanya baca full draft aslinya, namun jauh di lubuk hatiku, aku tahu buku ini akan menjadi berkat luar biasa bagi banyak orang. Banyak jiwa akan dikuatkan, dipulihkan dan diteguhkan. It’s so simple and honest book. Setiap kata-katanya lahir dari hati. Sederhana, but powerful! “Mbak Nancy, engkau juga telah menjadi inspirasiku, tidak saja dalam mengejar visi, tidak saja dalam mengejar panggilan, tapi untuk tetap setia terhadap hal-hal kecil yang Tuhan percayakan dan mau mengambil tanggung jawab. Butuh suatu keberanian dan ketegaran untuk semua hal tersebut!” Sesungguhnya, menyaksikan hamba-hamba Tuhan yang mau bertahan setia bahkan yang telah menjadi berkat bagi banyak orang menjadi sukacita tersendiri bagiku.
Akhirnya, kita tahu sekarang pengaruh buku itu luar biasa. Sejarah juga mencatat, bahkan hingga kini, bahwa tokoh-tokoh iman dan para pemimpin gereja yang berpengaruh adalah para pembaca buku. Jangan terkejut, Rasul Paulus-tokoh paling berpengaruh dalam Perjanjian Baru juga adalah seorang pembaca buku. Tidak hanya itu, Paulus juga menulis, dimana tulisannya lebih dari separuh buku Perjanjian Baru. Paulus menyadari, pelayanannya suatu saat akan terhenti, namun pengaruh tulisannya tetap turun-temurun sampai kepada akhir jaman. Itulah kekuatan sebuah buku!
In his reading,
John Jeshurun
DIarsipkan di bawah: GEREJA, LEADERSHIP, MARKET PLACE, PANGGILAN | Ditandai: CHUCK SWINDOLL, joel osteen, John C. Maxwell, kepemimpinan, MEMBACA, MENULIS, OSWALD SANDERS, pelayanan gereja, READING, rick warren
hiks, hiks, hiks, sangat terharu membaca tulisan mu My Invisible brother. Thanks for the support and review. I never get enough saying thank you. I took many of your suggestions, and go for editing, adjusting, crafting, and orit took almost 4 months before submitted it to the Publisher. That time, almost no mistake and mistyping. Nothing change in the content but you will see it much better.
I’m quiet busy now, pastoring, mothering and working a teacher. I almost abandon my blog, let alone to go blogwalking. But I always remember you and intended to sent email jus to let you know the book has published and available in Gramedia and other Chrisitan Book Stores.
I am thankful having so many people supporting me, from the blogosphere, facebook and all brotherhood/sisterhood in Christ.
I also want to tell you that you just wrote an amazing article about books, that show how deep thinker and intelligent you are. I also get connected because, most of the books mentioned above are my favorite books too. I think you just redifined my very own thought.
GBU, my brother in faith…
.
Pak John,
Terima kasih buat infonya, saya juga hobinya baca buku-buku rohani, cuma karena saya di daerah jadi agak susah untuk mendapatkan buku-buku tersebut. Beberapa buku sih sudah saya koleksi namun pengen juga beli yang lain.
oh ..iya Pak John, tolong dong kirimkan judul-judul bukunya ntar kalo mampir Jakarta saya bisa beli.
Pak John …satu pertanyaan lagi nich..
Gereja menganjurkan untuk memberikan Perpuluhan di Gereja mana kita bertumbuh….saya setuju. Tapi apakah tidak boleh sekali ato dua kali kita memberikan Perpuluhan di tempat persekutuan dimana kita sering berdoa dan beribadah. Mohon infonya…
Thanks ya…GBU
Octavianus
Nun jauh di Kalimantan Timur.
.
Pak Jhon,”Tulisan anda Memberikan VISION untuk saya, God Bless You, ” boleh tahu nama FB anda, saya mau belajar lebih banyak dari anda”
( ” Hari Gini Hamba TUHAN cuma Baca Alkitab doang, he he…..ke Laut saja, ha ha….”)
.
Pak saya termasuk orang yg semua buku yg disebutin hampir punya thanks JBU
.
@Nancy. Liat aja nanti. Bukunya pasti laris, karena memang jadi berkat yang luar biasa. Sip..sip, ga sabar mau baca kembali dalam bentuk buku. Tuhan bekerja secara luar biasa untuk Mba di tahun ini, atas favor dan kebaikanya. Yang pasti siap-siap aja Mba untuk kejutan-kejutan yang bakalan Tuhan siapkan ke depan.
@Octavianus. Ini listnya: http://jeshurun8.wordpress.com/2009/10/20/my-favorite-books/
Benar, perpuluhan dikembalikan ke gereja lokal tempat kita bertumbuh atau melayani. Jangan ragu Bro. Just lakukan saja, seperti biasanya.
Kita dapat pula mendukung dalam dana atau memberi/menabur untuk persekutuan atau kebaktian yang sering kita ikuti-yang bukan terafiliasi dengan gereja lokal. Namun bukanlah perpuluhan. Hanya bersifat taburan persembahan. Perpuluhan dikembalikan ke gereja lokal.
Namun demikian, ada banyak juga orang yang memberikan perpuluhan ke persekutuan yang mereka ikuti, karena merasa mendapatkan pertumbuhan rohani di sana. Tidak salah! Asal tidak mengabaikan perpuluhan di gereja lokal. Yang harus diingat adalah: prinsip pertama dan utama dalam memberi adalah melepas dengan sukacita.
Jika dirasa berat, maka tidak ada gunanya lagi. Tuhan hanya melihat kasih kita dan selalu dapat mengetahui motif kita. Itulah sebabnya kita tidak bisa berdiri di dua tempat dalam waktu yang bersamaan.
Pertumbuhan sejati hanya dapat terjadi jika kita berkomitmen kepada satu tubuh lokal. Perpuluhan hanya salah satu dari sekian bukti komitmen kita.
@Erni. Welcome Bu. Nice to have you here!
.
@Danny. He..he..hampir kelupaan. Sori, ga ada akun Facebook nih. Senang, jika bisa jadi berkat Pak. Thanks.
.
Thanks Pak John untuk infonya..GBU
[...] bagi setiap orang yang membacanya. Terima kasih sebelumnya untuk teman Christian blogger saya , John Jeshurun yang telah membuat review buku ini di blog-nya. Saya bersyukur bisa mendapatkan support dari sesama [...]