MELIHAT JENIS DISKRIMINASI DI GEREJA
“Dalam gereja yang diskriminatif, berakar kepemimpinan yang juga diskriminatif” –John Jeshurun
Kali ini kita bahas tentang persoalan diskriminasi. Diskriminasi di gereja itu sungguh ada. Tuhan ga pernah mentolerir pelaku diskriminasi di mana saja, apalagi di gereja. Apa-apa saja tuh, ayo kita bahas satu per satu.
Diskriminasi Duit. Tidak dipungkuri, ini yang utama, makanya dibahas duluan. Di kebanyakan gereja, ternyata yang paling enak itu adalah orang kaya, yang punya jabatan atau pengusaha. Mereka lebih dihormati dan diperlakukan khusus dan disambut lebih hangat, ketimbang orang miskin. Hampir 90% gereja terdapat diskriminasi duit ini, paling ga ada, walau ga parah-parah amat diskriminasinya. Hal ini menyedihkan. Rasul Yakobus, sunnguh membenci perlakuan diskriminatif ini dan berkata (bagi penyambut tamu di jemaat, dengarkan baik-baik), “Kalo menyambut orang masuk ke gereja, janganlah membeda-bedakan orang, yang kaya kamu hargai dan yang miskin kamu abaikan”. Trus, bukan hanya itu. Di gereja, yang kaya gaulnya ama yang kaya aja, yang miskin ya gitu-gitu aja deh. Akhirnya, yang miskin, karena ga tahan terhadap perlakuan diskriminatif yang memilukan hati ini, memutuskan untuk keluar. Kini, di gereja hanya tinggal orang-orang kaya saja sehingga ga ada lagi tempat bagi si ‘Lazarus’-jemaat yang melarat. Padahal, kalo kita baca alkitab, tipe ‘Lazarus’ bakal diangkat ke Surga dan orang-orang kaya yang berlaku diskriminatif juga akan dipertemukan dengan mereka, walau cuma sebentar.

Diskriminasi Rupa. Belajarlah untuk tidak memandang rupa, baik di dalam maupun di luar gereja. Jangan lihat fisik seorang semata. Jangan memangang rendah jika seseorang bermata juling, rambut rontok, gigi maju ke depan, muka jerawatan, hidung kamu pesek, berbadan pendek atau bahkan cacat, karena kita semua saudara. Itu prinsip melayani. Kita sudah ditebus oleh darah Kristus, masakan kita masih memandang rupa? Bagi temen-temen yang merasa dizhalimi, direndahkan, ketahuilah bahwa segala kekurangan fisikmu itu adalah hal yang akan membawamu ke Surga nantinya. Asal mau tetap bersyukur dan ga sakit hati apalagi menyimpan dendam. Bersyukurlah kepada Tuhan. Trust me, diskriminasi model ini ga bakalan lenyap dari gereja kok. Datang pada Tuhan, be yourself dan ga perlu menjilat para ‘cantik jelita’ dan ‘tampan rupawan’ di gereja karena butuh temen. Sahabat sejati adalah orang yang bisa menerima kamu apa adanya. Pergi ke cermin dan katakan berkali-kali, “Aku bangga atas rupaku dan aku menyukai diriku”. Tuhan mengasihimu apa adanya, bahkan Tuhan berkata,“Aku yang menenun engkau dalam rahim ibumu, kejadianmu dashyat dan ajaib. Ga usah minder. Siapa bilang di neraka itu banyak orang jelek, cacat dan monster, itu mah mitos lagi. Asal tahu aja, penghuni neraka itu kebanyakan adalah orang-orang rupawan dan cantik-cantik kok, yang bakal selamanya menemani “Prince Charming”- Lusifer. Ingatlah, manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.
Diskriminasi Kepintaran. Pernah denger ayat ini,”Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat.” Jadi jangan pernah minder, karena berita baiknya Tuhan juga akan memakai orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh dunia. Kepemimpinan sejati adalah yang dapat mengubah orang biasa jadi luar biasa. Itulah yang menjadi ciri khas Tuhan Yesus. Murid-murid-Nya yang sebagian besar adalah nelayan-yang tak dianggap, tapi malah dipilih! Hare gene diskriminasi di gereja karena kepintaran? Please deh. Gereja sejati adalah tempat yang paling nyaman untuk belajar. Jemaat yang punya gelar S3 sama-sama bergandengan tangan dengan jemaat yang cuma lulus SMP datang menyembah Tuhan. Ga ada intimidasi dikarenakan seseorang itu bodoh, telmi, tidak berpendidikan, lamban, wawasan sempit, informasi terbatas, kuper, ga bisa bahasa inggris, kampungan, ga gaul, IQ jongkok atau bahkan buta huruf sekalipun, kamu aman, sebab ini rumah Tuhan. Semua orang harus dihormati dan berhak mendapat penghargaan yang sama! Tahu ga kenapa orang ga bisa jadi dirinya sendiri di gereja? Karena takut dibilang bego, bodoh, halah itu aja loe ga tahu? Duh, telmi abiss, masa sih loe ga ngerti, ga pernah baca ya? Wah, sakit loh digituin, apalagi sama orang segereja yang kalo nyanyi bukan main gayanya, “Kukasihi Kau dengan Kasih Tuhan…bla..bla.” Tahukan orang-orang di gereja yang suka beda-bedain orang bodoh, gaul hanya sesama mereka yang pintar and smart, bahkan (my God!) pendetanya juga kayak gitu. Belajarlah mengampuni, walau itu pendeta yang lakuin. Jangan buru-buru lapor ke Komnas HAM, lapor sama Bapa di surga aja, curahkanlah isi hatimu, nantikan Tuhan, akan tiba waktunya Tuhan mengangkat engkau!
“Apabila kamu menyebut seorang teman ‘tolol’, kalian menghadapi kemungkinan diseret ke hadapan pengadilan. Dan apabila kalian mengutuki dia, maka kalian menghadapi kemungkinan dilemparkan ke dalam api neraka.” (Yesus, Matius 5: 22)
Diskriminasi Umur. “Wah tuh orang masih terlalu muda.” Daud diurapi menjadi raja dalam usia yang masih sangat muda, jadi ga dianggap. Jangankan Pendeta Samuel, ayahnya sendiri berprilaku diskriminatif. Kadang, sempat terpikir olehku kenapa Daud pernah berdoa, “Sekalipun ayah dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku.” Mungkin Daud sempat kecewa juga terhadap perlakuan diskriminatif dari keluarganya. Abang-abangnya juga pernah menegurnya, “Hey, ngapain loe anak kecil ke Medan perang, eh ternyata si Daud muda yang akhirnya mengalahkan musuh Israel-Goliath. Dalam melayani Tuhan, umur ga menjadi soal, yang penting kamu tahu kuasa Tuhan yang menopangmu. Kedewasaan rohani ga ada hubungannya dengan umur, tapi orang yang mau bertanggung jawab dan bisa jadi teladan. Timotius dipakai Tuhan dalam usia muda, tapi dia belajar untuk menjadi teladan. Umur boleh saja tua, tapi belum tentu dapat diteladani. Daud berkata, “Aku lebih mengerti daripada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titahmu”. Perhatikan, jika orang-orang lebih tua juga akan memperlakukanmu secara diskriminatif, menganggap kamu seperti ga ada apa-apanya, jangan takut dan belajarlah seperti Daud.

Diskriminasi Bakat/Kemampuan. Biasanya di gereja yang pinter main musik, bisa menyanyi, menari dan bisa khotbah lebih diutamakan karena ‘bisa melayani’. Talented people itu lebih dihargai di gereja. Apalagi kalo di gereja juga berjemaat artis sinetron, bintang film, model, maka mereka ini akan sering ‘dipakai’ untuk melayani bahkan terkadang disuruh khotbah juga. Kaum selebritis di gereja itu ibarat kasta paling atas dan terkadang bisa mengatur pendeta. Kaum yang kurang berbakat menjadi tersisihkan, pendapat mereka ga didengar. Sesungguhnya, bakat dan talenta dan ketenaran tidak banyak berpengaruh kok dalam pertumbuhan gereja, tapi bikin ramai, iya. Bakat dan talenta hanya berpengaruh di industri hiburan, kecuali mau bikin gereja tipe Hollywood kali? Jika gembala kurang memiliki pengaruh, biasanya talented people will take over. Mau dibawa kemana gereja jadinya kalo begitu?
Diskriminasi Suku/Bangsa. Tahu ga awalnya kenapa misionaris bikin gereja suku, ratusan tahun yang lalu? Itu adalah pendekatan kontekstual budaya. Misionaris ini bayar harga dan rela berkorban agar suatu kaum dapat diselamatkan. Sebab, bagi Tuhan semua suku itu berharga di mata-Nya, karena itu janganlah kita merendahkan suku apapun juga. Yesus sendiri ‘memilih’ untuk terlahir di tempat terpencil Bethlehem dari kaum yang ga terpandang dan dibesarkan di Nazareth-suatu tempat yang tidak dianggap. Bagaimanapun gereja yang mampu mengakomodir segala suku kaum bahasa adalah cerminan kerajaan Surga. Di surga nanti, segala suku, kaum dan bahasa bersama-sama menyembah Tuhan, ga ada diskriminasi dan ga ada suku yang lebih hebat (budayanya) daripada suku yang lain. Semuanya sama di mata Tuhan. Di alkitab, Paulus pernah menegor Petrus karena berlaku munafik dan diskriminatif terhadap orang-orang non Yahudi. Suatu ketika, aku mengikuti konfrensi, dimana pembicaranya adalah Nabi besar dari Amerika. Waktu khotbah, dia sempet ngomong gini, “Don’t just sit there with your Indonesian style, say Amen, if you believe the messages.!” Ga perlu karunia membedakan roh, nih Nabi jelas bersifat diskriminatif. Harusnya dia jadi berkat, bukannya merendahkan derajat suatu bangsa. Aku tahu kok bangsaku Indonesia dipandang sebelah mata di luar sana, di Malaysia, Singapore apalagi di Amerika. Berkali-kali bangsaku direndahkan, dibilang teroris, koruptor dan pembantu, jadi gerah! Tapi ga papa, aku ampuni mereka Tuhan. Justru karena semua ini, aku percaya suatu saat nanti belas kasihan Tuhan tercurah atas negeri kami dan Indonesia akan bangkit menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh bagi dunia.
“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Paulus, Galatia 3:28)

Demikianlah beberapa jenis diskriminasi. Diskriminasi yang ada di gereja merupakan cerminan kepemimpinan di gereja. Umumnya gereja yang bersifat diskriminatif berakar kepemimpinan yang diskriminatif pula. Aku sering bertanya kenapa seseorang mau bergabung dalam suatu gereja lokal tertentu, apakan karena bandnya, khotbahnya, gedungnya atau fasilitasnya? Umumnya mereka menjawab karena penerimaan yang tulus dari seluruh jemaat. Jangan pernah mimpi kebangunan rohani, pemulihan, lawatan Allah, tranformasi atau apapun istilah rohaninya kalo masih saja ada perlakuan diskrimintif di gereja.
In God’s love,
John Jeshurun
DIarsipkan di bawah: AGAMAWI, GEREJA, LEADERSHIP, MARKET PLACE, PANGGILAN, PENGINJILAN | Ditandai: DISKRIMINASI, DISKRIMINASI DI GEREJA, kepemimpinan, LEADERSHIP, pelayanan, penggembalaan, PRISIP PELAYANAN
Pak John,
Memang benar banyak sekali deskriminasi di dalam Gereja ..kelihatannya hampir semua yang Anda paparkan itu terbukti. Ini suatu tantangan besar bagi kita pelayan-pelayan Tuhan yang diberi hikmat untuk memahami masalah ini. Ada banyak jemaat Gereja yang pindah ke Gereja lain atau bahkan tidak ke Gereja lagi karena mereka kecewa dengan pimpinan Gereja yang tidak memperlakukan mereka sama. Pak John..ada trik-trik khusus gak selain mendoakan mereka yang sudah terlanjur kecewa dengan Pemimpin atau pengurus Gereja…supaya mau aktif lagi bergereja atau pun berjemaat.
Thanks, GBU
Octavianus
.
@Octavianus. Itu hal yang ga mudah, apalagi kalo sudah kecewa dgn pemimpin. Kalo mereka pindah, lepaskan berkat, itulah yang harus dilakukan, yang penting mereka kembali melayani Tuhan, tanpa ada beban di kedua belah pihak (walaupun aku tahu hal ini tidak semudah ngomongnya, ini berat, bawa pada Tuhan)
Kalo mereka ga mau gereja lagi, salah satu cara, supaya aktif kembali berjemaat adalah kunjungan. Ini bukan kunjungan biasa, ini kunjungan rekonsiliasi. Para pemimpin atau pengurus gerejalah yang mendatangi dengan hati hamba mendengar segala keluhan jemaat ybs. Biasanya, apabila hati sudah terbuka dan uneg-uneg sudah dilepaskan, maka hal selanjutnya berdoa bersama-rekonsiliasi. Terima kuasa pemulihan dari Allah.
Pemimpin harus datang dengan segala belas kasihannya. Apalagi mereka sudah dipercaya Tuhan untuk ‘berjaga-jaga’ atas jiwa jemaat (Ibr 13:7). Berilah waktu, jika mereka belum membuka hati. Ingat persoalan di jemaat dan pemimpin/pengurus jika tidak diselesaikan lama kelamaan akan menjadi benang kusut. Jgn beri kesempatan si Iblis untuk melancarkan ‘adu domba’.
Yah, at least. Coba cari temen yang punya kemampuan konseling, intinya ada orang yang mau MENDENGARKAN. Bener-bener mendengarkan-yah itu pelayanan konseling utama. Itu paling tidak yang perlu dilakukan dalam kunjungan pertama. Tidak ada orang yang lagi kecewa, butuh nasehat apalagi dikhotbahin. Mereka lebih butuh didengerin.
Jemaat yang dipulihkan, biasanya bakal bangkit melayani dengan sepenuh hati, bahkan melebihi yang sebelumnya.
Bro John Jeshurun,..
Salam kenal bro….:)
Thanks buat postingannya, komplit banget deh….semua jenis diskriminasi yg ada di gereja dan pernah dirasakan ada di tulisanmu….it’s really blessed me!
bgmn caranya share ke facebook ku ya..spy temen2ku bisa dpt berkat jg via tulisanmu ini or copy ke email yahooku ? pls ksh tau caranya ya…thx & God bless !
Peace,
Chen Yohanes
@Chen. Welcome Bro, welcome. Copy and paste maybe Bro? Senang bisa jd berkat. Ya, that’s our purpose on this earth!
.
Pak John,
saya ijin copas tulisan bapak ini di web gereja tempat saya beribadah, bisa cek di sini –> http://www.bethanybangkok.com/ver2/
semoga tulisan bapak ini bisa membuka mata beberapa orang di sana dan terutama gembala kami sendiri…
suami saya termasuk salah satu orang yang di diskriminasi di gereja, hanya karena kami jarang/tidak pernah ikut ibadah doa puasa setiap hari sabtu, dia dilarang ikut melayani di multimedia seperti sebelumnya.
sakit banget rasanya, apalagi suami saya bersungguh2 dalam setiap jadwal pelayanannya. Tapi kami tidak bisa berbuat apa2 Pak, korban peraturan baru itu hanya suami saya dan kami tidak bisa menentang gembala kami yang notabene adalah orang pilihan Tuhan.
kok jadi curcol…hahhahaha…
thank you buat tulisan2nya yang benar2 memberkati saya…
God bless…
Lanny
Dear, Bu Lanny. Silahkan. Terimakash sdh berkunjung. Bu Lanny, sy turut prihatin dgn apa yg terjadi, semoga Ibu dan suami bs menerima dgn iklas. Iklas itu kunci perkenanan Tuhan. Melayani itu penting, utk itulah kt dipanggil-namun bersikap iklas itu jauh lebih penting. Kita mungkin ga bs menyenangkan setiap org, tp dgn iklas kt menyenangkan Tuhan.
Terima dgn iklas Bu, Tuhan lihat bagaimana pelayanan Suami Ibu selama. Apabila ada peraturan yg seperti itu, taati saja dahulu. Biasanya penundaan itu tanda mau naik tingkat dalam kerohanian. Di mata manusia, seperti kemunduran, tetapi dalam Tuhan terjadi peningkatan. Belum tentu pemimpin bersikap diskriminatif.
Saran saya, Ibu dan suami berdoa dan curhat pada Tuhan. Selanjutnya sampaikan saja langsung ke gembala, mungkin janji ketemu di rumahnya atau di restoran, membicarakan pelayanan Ibu dan suami. Saya ksh tau suatu rahasia bu, setiap gembala pasti ingin setiap jemaat terlibat dlm pelayanan.
Semoga ibu dan suami dikuatkan melalui pengalaman ini. Amin!
.
Pak John,
terima kasih untuk kata2nya yg menguatkan saya…
memang, gembala kamipun ingin semua jemaatnya terlibat dalam pelayanan apalagi gereja kami ini kecil dan di negara orang…
dibicarakan dengan beliau…?? lebih baik nggak Pak, siapa sih kami ini, bisa2 masalah kami ini tersebar di gereja…
biar kami dan Tuhan saja yang tau…
ada banyak uneg2 kami dengan beliau, tapi nggak etis rasanya kalo dibicarakan di sini…
kami harus tetap menghormati dan menghargai segala keputusan yang diambil, bagaimanapun juga beliau orang yang sudah dipilih Tuhan untuk menjadi pembimbing rohani kami…
terima kasih sekali lagi…. Gbu…
Lanny