MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP MENEGUR
Requested by Nanda
Pada posting sebelumnya kita sudah belajar prinsip penting dalam hal menghakimi. Kali ini kita bahas tentang pelajaran menegur. Ini sama pentingnya. Kekristenan bukanlah tentang kekudusan pribadi saja, melainkan juga tentang kebersamaan. Itu sebabnya kita perlu bersekutu sesama saudara dalam Tuhan. Aku sering mengatakan, bahwa persekutuan yang benar akan membawa kita kepada pertumbuhan progresif, semakin hari semakin indah dalam Tuhan. Sebaliknya persekutuan yang tidak menghasilkan pertumbuhan, sama sekali bukanlah persekutuan. Itu hanya ngumpul-ngumpul bersama plus ada ‘acara’ rohaninya.
Persekutuan yang benar itu ibarat besi menajamkan besi. Jadi ada interaksi. Cari di alkitab, kata ‘saling’. Itu bicara interaksi. Saling menguatkan, saling mendoakan, saling menasehati dan saling menegur. Hal-hal ini selalu menyertai perkumpulan jemaat yang benar. Teguran itu penting sekali. Mari kita lihat beberapa kebenaran berikut ini:
“Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat” (Amsal 10:17) “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu” (Amsal 12:1)
Waktu kita ditegur seseorang saudara dalam Tuhan, kalo kita peka, sebenarnya itu adalah suara Tuhan terhadap kita. Sahabat yang baik adalah orang yang mendoakan dan memberi teguran saat diperlukan. Teguran seorang sahabat itu sangatlah berharga. Karena itu kita harus mau ditegur dan dinasehati. Ditegur oleh seorang saudara itu masih lebih baik daripada ditegur sama musibah. Justru, kebanyakan di antara kita akan lebih ingat kepada Saudara yang menegur dan ketimbang yang menjilat.
“Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat” (Amsal 28:23)
Sedapat mungkin, tegurlah para sahabat-sahabat kita saja dahulu. Di sini awal pelajaran menegur. Mulai liat reaksinya. Sahabat aja kadang bisa sebel kalo ditegur bahkan salah-salah bisa sampai ga teguran seminggu, padahal sama-sama melayani. Belajar menegur, menasehati dan mulailah dari orang-orang terdekat dahulu. Kita dipanggil untuk menjadi penjaga dari saudara-saudara kita. Itu besar pahalanya kalo dilakukan dan ada hukuman juga jika kita mengabaikannya. Btw, ada kasus khusus, ini merupakan pengecualian, kita harus waspada. Misalnya kasus Ayub. Ada juga nantinya orang-orang yang di jemaat mengalami kejadian seperti Ayub. Maka, janganlah kita coba-coba menasehati ‘Ayub’, kurang kerjaan juga namanya tuh. Biarkan ‘Ayub’ diuji sama Tuhan, kita doakan supaya dia menang. Nasehati dan beri terguran kepada sahabat-sahabat yang mulai menyimpang, yang mulai cinta dunia, yang mulai jarang kebaktian dan sebagainya. Betapa senang tentunya apabila Saudara kita yang tersesat kembali bersama dalam persekutuan. Ini adalah hal yang sangat menyenangkan hati Tuhan.
Namun demikian, ternyata menegur orang itu tidaklah mudah. Kadang bisa disalahmengerti bahkan juga dibenci. Itu yang buat orang malas menegur orang lain. Menegur itu mengandung resiko. Maksud kita baik, eh dianggap jahat. Padahal, di mata Tuhan, kalo kita melihat ada sesuatu yang salah dalam kehidupan saudara seiman dan kita tidak mencegahnya, itulah namanya kejahatan. Membiarkan orang jatuh dan berkubang dalam dosa itu hal jahat di mata Tuhan. Jadi terkadang, hal ini menjadi dilema bagi anak-anak Tuhan. Jadi apa yang harus dilakukan?
Lakukan saja bagian kita. Itulah yang harus dilakukan. Selanjutnya jika orang ga mau menerima teguran, ya ga papa, yang penting kita sudah lakukan bagian kita. Itulah yang Tuhan mau liat! Mereka trima atau tidak, itu urusan mereka, lakukan bagian kita, selebihnya serahkan sama Tuhan. Yang harus kita jaga adalah hati kita. Jangan sampai karena menegur dan orang itu ga mau dengar, lalu konflik terjadi dan kita menjadi marah sama Tuhan. Kita menjadi kehilangan fokus dan mundur secara rohani. Iblis bekerjanya selalu menabur benih pertikaian sesama saudara. Sudah saudara kita jatuh, Iblis ingin pula menjatuhkan kita, memberi beban rasa bersalah. Karena itu, jangan mau kehilangan arah, bersandar pada Tuhan. Di sinilah kita harus siap. Mari kita lanjutkan.
Hal yang penting dalam menegur orang lain adalah masalah cara. Mendapat teguran itu ga enak. Pada dasarnya ga ada manusia yang mau ditegur. Jadi di sini perlu hikmat. Teguran yang mau diberikan itu pada dasarnya benar, hanya saja caranya juga harus tepat. Menegur sembarangan terkadang bisa membuat orang jadi patah semangat dan mundur. Cara menegur itu bisa dipelajari, hanya saja terkadang kita ga sabaran, selalu berfokus pada hasil, hasil dan hasil. Sama seperti orang berdoa, selalu fokusnya jawaban doa, bukan pada kehendak Tuhan. Kita harus menyadari, terkadang yang Tuhan mau lihat prosesnya, itu yang terpenting. Lihat dua sisi pembentukan Tuhan. Tuhan mau menguji kita sekaligus juga mau menolong yang tersesat melalui kita. Melalui proses ini maka akan kelihatan aslinya kita. Don’t worry, justru bagian ini yang Tuhan mau poles, supaya kita semakin indah di hadapan Tuhan. Jadi belajarlah menegur yang baik.
Kita juga harus bersandar pada Roh Kudus dalam menegur. Supaya kita ga mengandalkan hikmat manusiawi. Nah, jika orang yang ditegur kembali kepada Tuhan, jangan sekali-kali bermegah dan memuji diri, itu semua karena kuasa Tuhan semata. Selanjutnya, ada orang-orang tertentu yang bertobat dari dosa-dosa perlu dikonseling. Jika kita mau belajar, silahkan saja. Namun jika dirasa perlu, jangan ragu minta minta bantuan dari kakak rohani atau pemimpin, khusunya yang punya karunia konseling. Jadi, tidak cukup hanya hanya doa pelepasan. Sebenernya, ga ada yang salah dengan doa pelepasan, masalahnya banyak pemimpin yang ga sabaran, dikit-dikit pake power, pake urapan, pake pelepasan. Padahal, doa yang berkuasa adalah doa yang sepakat. Sebelum seseorang terbuka hatinya dan mau curhat dan dipulihkan, tidak ada yang namanya doa pelepasan. Proses penting konseling adalah mendengar curhat, lalu hal kedua yang sama pentingnya dengan itu adalah bagaimana mentransfer firman Tuhan ke dalam hatinya (yang sudah terbuka) sehingga muncul iman dan kesehatian. Selanjut doa akan lebih mudah. Kalo sudah sepakat, berdoalah dan jangan ragu dan jangan tanggung-tanggung, gapai hadirat kemuliaan Tuhan, have a strong prayer! Doa bukanlah doa, sampai kemuliaan Tuhan turun. Strong prayer, not just loud! Maka pelepasan sejati pasti terjadi!
Lebih di atas semuanya, lebih di atas caranya, teguran harus diberikan dalam kasih. Kamu harus mengasihi orang terlebih dahulu sebelum menegurnya. Orang mau menerima terguran, sekalipun yang paling keras, itu karena mereka tahu bahwa kita mengasihi dia. Terima juga orang apa adanya dan perlihatkan bahwa kesalahan dan dosanya is no big deal, asal dia mau kembali. Sedapat mungkin janganlah menegur orang bawa alkitab sambil tunjukkan ayat, “Siapa membenci teguran adalah orang dungu!”. Kamu pasti akan disuruh pulang. Tunjukkan terlebih dahulu perhatian yang tulus dan bila perlu ga menegur sama sekali. Beri waktu supaya muncul keterbukaan, akan lebih mudah. Jika dia sudah kembali, ga perlu repot-repot menasehati. Cukuplah, yang penting dia sudah kembali kepada Tuhan, klaim kembali dan patahkan kuasa dosa, lepaskan kembali urapan Tuhan.
Terakhir, apabila segala cara telah dilakukan, jika memang saudara yang ditegur ga mau bertobat, maka usirlah dia. Wah, kok diusir. Mari kita lihat apa kata Tuhan.
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai” (-Yesus, Mat 18:15-17)
Kalo liat konteksnya ayat ini adalah penyelesaian konflik antara dua saudara. Namun, sebenernya ayat ini bisa juga dipakai dalam hal menegur dan membawa kembali orang dalam Tuhan. Yesus memberi kita urutan dalam hal menegur orang yang ga mau bertobat. Pertama, empat mata. Kemudian libatkan 2-3 orang saksi. Kalo ga mau juga, bawalah kepada rapat kepemimpinan jemaat. Jika orang itu da mau bertobat, usirlah orang itu! Ibarat bagian tubuh yang membusuk, orang yang memberontak harus diamputasi dari jemaat. Tuhan tahu, sedikit ragi akan mengkhamiri seluruh adonan. Jika ga ditindak tegas, ntar jemaat yang lain akan kena virus! Dosa di jemaat itu ibarat virus menular. Kasih yang sejati itu tegas, bukanlah kompromi terhadap dosa! Kita bisa bergaul dengan para pendosa, tapi jangan sekali-kali bergaul dengan orang Kristen yang katanya mengenal Tuhan tapi yang hidup dalam dosa. Paulus juga mengajarkan tentang hal ini (mari kita perhatikan seksama)
“Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu? Orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu. (-Paulus, I Korintus 5)
Saat seorang saudara yang telah diusir dari jemaat, maka tentunya dia akan kembali ke dunia. Ini masalah positioning, jangan sampe dia mengira dia dapat melakukan dosa dan secara bersamaan dapat menjadi umat Allah. Agar dia bisa lebih jelas melihat posisinya yang sekarang. Itu sama aja, dengan orang Kristen yang hangat-hangat kuku (setengah-setengah) yang akhirnya dimuntahkan Tuhan. Saat dia memposisikan sebagai orang yang tidak mengenal Allah, itu lebih baik. Sebab, suatu saat dia akan sadar saat mengetahui bahwa keadaannya tanpa Allah justru lebih menyekitkan dan makin hari makin memburuk. Iblis memang datang hanya untuk mencuri dan membunuh. Suatu saat, seperti perumpamaan tentang anak yang hilang, anugerah Allah akan menyentuh hatinya kembali dan kalo dia merespon, maka dia akan kembali dipulihkan. Memutuskan mendaftar kembali jadi anggota jemaat? Siapa takut! Kalo gereja yang lama ga mau menerima, itu adalah pertanda, bahwa Tuhan sudah siapkan yang lebih baik lagi.
Selamat belajar menegur dan menasehati satu sama lain. May God Bless u all!
In his pastoring,
John Jeshurun
DIarsipkan di bawah: @BY REQUEST, AGAMAWI, GEREJA, HADIRAT TUHAN, JATUH & BANGKIT, KELUARGA, LEADERSHIP, MARKET PLACE, PANGGILAN | Ditandai: jemaat, KAKAK ROHANI, KASIH SEJATI, KONSELING, MENEGUR, menghakimi, PELAJARAN MENEGUR, PERSEKUTUAN, urapan
Makasih y pak, menegur dan menghakimi, intinya kasih di atas sglnya ya pak ya?Menegur krn kita mengasihi dan tidak menghakimi krn kasih jg tp walo ini sederhana ga byk yg menyadari blgx gini ‘aq ini ceplas ceplos(mengumpat) tp hatiq baik’ hehe..
Oya, bagian menegur yg terakhr kalo org yg ditegur memang ga mau dgr2an jd istilahx dia dikucilkan, lalu tindakan kt selanjutx hanya b’doa dan membiarkan dia?ehm, ya sih just do our portion n let God do the rest..
Makasi ya pak msh byk pertanyaanq ttg yg lain lg..:) Gbu
.
@Nanda. Benar. Tp, tegur dan nasehati sahabat2 dulu. Btw, seorang yg ceplas ceplos-dalam arti jujur apa adanya justru bagus dalam persekutuan, bikin suasana cair, hangat, mengusir rasa jaim dan sikap basa-basi. Yang penting harus bersahabat ya. Sebaliknya, org yang perfeksionis dan suka mencela/mengkritik adalah yang paling merusak persekutuan.
.
Iya pak, menasehati pun harus berhikmat untuk memberi rasa aman bukan untuk menghakimi, susah sii kalo ngandelin diri sendiri emang harus RK yang kerja…
ceplas ceplos memang baik sii pak tapi tetep harus jaga perkataan kali yaa, waktu pernah nonton “the nanny” kata “jelek” aja diusahakan jangan dipake tapi ganti dengan “ga bagus” yahhh mungkin ga harus seekstrim itu tapi ceplas ceplos tetep harus menjaga lidah juga hehehehe…. Orang perfeksionis cenderung orang yang berorientasi pada hasil, kalo hasilnya ga bagus ngomel deh… Oya pak, lain kali bahas masalah matius 5: 28 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” nahhh pertanyaan saya masih banyak pak, kadang2 susah nemu bacaan yang pas… tq b4 ya pak… Gbu 4ever…
.
@nanda +1
saya juga merequest matius 5 : 28 pak Jon
@nanda +1
saya juga merequest matius 5 : 28 pak Jon. thx & Gb
.
@Nanda & Adi Surya. Oke gimme some time yah…maybe besok or sabtu aku post. GBU. Have a radical love and passion for God!
.
@Nanda & Adi. It’s done: Berzinah Dengan Mata
.